ASIAWORLDVIEW – Bank Saqu mencermati perubahan gaya menabung masyarakat Indonesia yang kini lebih adaptif dan berbasis kebutuhan jangka pendek. Dalam situasi sulit, banyak individu cenderung mengutamakan fleksibilitas dan akses cepat terhadap dana, sehingga metode menabung tradisional mulai bergeser ke pendekatan digital yang lebih dinamis.
Hal itu diungkapkan Willy Apriando, Head of Marketing & Branding Bank Saqu, Senin (22/9/2025). Ia menyoroti bahwa fenomena survival
mode menjadi faktor utama masyarakat kerap merasa pesimis dengan masa depan finansial masyarakat.
Fenomena survival mode—di mana individu atau kelompok hanya fokus pada kebutuhan dasar dan bertahan hidup dari hari ke hari—telah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pesimisme terhadap masa depan finansial. Dalam kondisi ini, masyarakat cenderung mengabaikan perencanaan jangka panjang, investasi, atau pengembangan diri karena energi dan perhatian mereka terkuras untuk memenuhi kebutuhan mendesak seperti makanan, tempat tinggal, dan penghasilan harian.
“Kami memahami bahwa rasa pesimis dan ketidakpastian akibat tantangan ekonomi ini merupakan hal yang nyata. Inilah yang mendorong kami menghadirkan solusi sederhana bagi masyarakat untuk mulai menentukan masa depan finansial mereka melalui fitur Set Target pada Bank Saqu. Dengan fitur ini, nasabah dapat dengan mudah menentukan tujuan finansial secara lebih terarah,” ia menyebutkan dalam konferensi pers sekaligus peluncuran fitur baru Bank Saqu.
Baca Juga: Bank Saqu Perkuat Inklusi Keuangan, Dorong Budaya Menabung Digital
Moneyfestation Morning Talk, yang menghadirkan para komunitas solopreneur serta nasabah Bank Saqu. Acara ini menjadi ruang inspiratif untuk berdiskusi mengenai pentingnya membangun optimisme dan menetapkan tujuan finansial yang terukur, di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian dan meningkatnya keraguan masyarakat terhadap masa depan finansial mereka.
Dalam sesi itu juga dibahas mengenai ketidakpastian ekonomi, tekanan biaya hidup, dan minimnya akses terhadap edukasi finansial memperkuat siklus ini. Alhasil banyak orang merasa sulit membayangkan masa depan yang stabil atau sejahtera. Akibatnya, harapan terhadap mobilitas ekonomi menurun, dan rasa percaya diri untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik pun ikut tergerus.
Ia juga memberikan pesan positif, di tengah kesulitan ekonomi yang melanda, sikap bersyukur dan kemampuan untuk tetap memberikan manifestasi positif menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan mental dan emosional. Bersyukur bukan berarti mengabaikan tantangan, melainkan mengakui hal-hal kecil yang masih berjalan baik sebagai sumber kekuatan.
“Ketika seseorang memilih untuk fokus pada harapan dan potensi, bukan hanya pada keterbatasan, ia membuka ruang bagi energi positif untuk tumbuh dan menarik peluang baru. Manifestasi positif—seperti menetapkan niat, membayangkan masa depan yang lebih baik, dan mengambil langkah kecil yang konsisten—dapat menjadi alat transformatif dalam menghadapi tekanan hidup. Dalam kondisi sulit, sikap ini bukan sekadar optimisme kosong, tetapi strategi bertahan yang memperkuat daya juang dan memperluas kemungkinan menjadi mungkin,” pungkasnya.
