Ketegangan Timur Tengah Mulai Tekan Pariwisata Indonesia

Bandara International Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten.(Kemenhub)

ASIAWORLDVIEW – Ketegangan di Timur Tengah bukan hanya isu regional, tetapi juga berdampak langsung pada pariwisata Indonesia. Hal itu terlihat dari penurunan jumlah wisatawan, kerugian devisa besar, dan kenaikan biaya perjalanan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Indonesia perlu segera melakukan reformasi di sektor pariwisata. Hal ini untuk memitigasi dampak krisis global, khususnya ketegangan di Timur Tengah.

“Sektor pariwisata saat ini sedang menghadapi tekanan karena konektivitas global terganggu akibat konflik tersebut,” ia mengatakan, Rabu (18/3/2026).

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Mulai Ganggu Pariwisata Bali

Timur Tengah yang selama ini berfungsi sebagai hub strategis penerbangan dari Eropa dan Amerika ke Asia juga mengalami gangguan, sehingga aksesibilitas ke Indonesia ikut terdampak. Kombinasi faktor-faktor ini menekan arus wisatawan mancanegara dan menimbulkan tantangan besar bagi sektor pariwisata nasional.

Penutupan bandara serta pembatasan rute penerbangan membuat kedatangan wisatawan asing ke Indonesia berkurang sekitar 4.700 hingga 5.500 orang per hari. Kondisi ini berimbas langsung pada devisa negara, dengan potensi kerugian mencapai Rp184 miliar per hari.

“Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global dan membangun fondasi bagi pariwisata dan destinasi yang tangguh serta kompetitif secara global,” ia menambahkan.

Selain itu, lonjakan harga bahan bakar akibat konflik meningkatkan biaya operasional maskapai, sehingga tiket pesawat menuju Indonesia menjadi lebih mahal dan kurang menarik bagi wisatawan.