ASIAWORLDVIEW – Wakil Menteri Promosi Investasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Nurul Ichwan, menegaskan bahwa investasi besar-besaran Apple di Amerika Serikat (AS) tidak akan mengganggu atau mempengaruhi rencana investasi perusahaan tersebut di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa meskipun Apple menggelontorkan dana hingga 600 miliar dolar AS untuk pengembangan industri di negara asalnya, hal itu tidak serta-merta mengubah strategi global mereka.
“Dalam empat tahun ke depan, tujuan di sektor bisnis adalah meningkatkan daya saing produk. Tidak hanya tentang kualitas produk tetapi juga termasuk persaingan harga,” ia mengatakan.
Menurutnya, biaya produksi di AS jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara seperti China, Vietnam, atau bahkan Indonesia, sehingga Apple tetap membutuhkan basis produksi yang kompetitif secara harga untuk pasar internasional. Ia juga menyebut bahwa sejumlah vendor Apple telah menunjukkan minat untuk masuk dan berinvestasi di Indonesia, memperkuat keyakinan bahwa realisasi investasi Apple di tanah air akan terus berlanjut dan bahkan berkembang.
“Jika Apple memproduksi komponennya hanya di Amerika Serikat, produknya hanya dapat dijual di pasar domestik AS,” jelasnya.
Baca Juga: Trump Ancam Kenakan Tarif Impor pada iPhone yang Tak Diproduksi di AS
Dia kemudian menilai bahwa Apple akan menghadapi batasan pasar jika hanya mengandalkan produksi di AS, karena biaya produksi di AS lebih tinggi dibandingkan produk Apple yang diproduksi di China dan Vietnam.
Apple dikabarkan tengah mempersiapkan pembangunan pabrik di Indonesia sebagai bagian dari ekspansi globalnya. Rencana ini mencakup investasi senilai sekitar Rp15,8 triliun atau setara dengan USD1 miliar, dengan lokasi yang telah ditetapkan di Batam. Pabrik tersebut direncanakan akan memproduksi perangkat seperti AirTag, dan diproyeksikan menyerap hingga 2.000 tenaga kerja lokal.
