ASIAWORLDVIEW – Film animasi MERAH PUTIH: ONE FOR ALL mencuri perhatian publik menjelang penayangannya dengan kabar bahwa produksi film ini menelan biaya sebesar Rp6,7 miliar. Angka ini terbilang fantastis untuk sebuah film animasi lokal, dan langsung memicu beragam reaksi di media sosial.
Disutradarai oleh Endiarto dan diproduksi oleh Perfiki.tv, film ini digarap dalam waktu singkat—hanya sekitar dua bulan sejak Juni 2025. Sayangnya, meskipun mengusung tema nasionalisme dan didukung oleh Kementerian Ekonomi Kreatif, kualitas visual dan animasi film ini justru menuai kritik tajam dari netizen.
Banyak yang mempertanyakan efektivitas penggunaan dana tersebut, terutama setelah trailer-nya dirilis dan dianggap tidak sebanding dengan budget.
Baca Juga: Film Agen +62, Gambarkan Sisi Gelap Judi Online yang Gentayangi Masyarakat
Kritik terhadap MERAH PUTIH: ONE FOR ALL semakin tajam karena ekspektasi publik yang tinggi. Ketimpangan antara dana besar dan kualitas yang dianggap rendah memicu pertanyaan serius tentang transparansi anggaran, efisiensi produksi, dan akuntabilitas kreatif.
Banyak netizen menyebut bahwa film ini terasa seperti proyek tugas sekolah, bukan karya profesional yang layak tayang di bioskop. Perbandingan dengan film animasi lokal lain seperti Jumbo, yang memiliki kualitas jauh lebih tinggi.
Mereka merasa bahwa kesempatan untuk menghadirkan animasi lokal yang membanggakan telah disia-siakan, dan film ini justru menjadi contoh buruk dari pengelolaan proyek kreatif berskala besar.
