ASIAWORLDVIEW – Konsumsi domestik dan ekspor merupakan dua mesin utama yang harus berjalan seimbang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara optimal. Ketergantungan pada salah satu komponen saja dapat membuat perekonomian rentan terhadap guncangan eksternal maupun fluktuasi permintaan dalam negeri.
Hal itu diungkapkan Yudhi Sadewa, Ketua Dewan Komisaris Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Indonesia, menurutnya, konsumsi domestik yang kuat mencerminkan daya beli masyarakat dan stabilitas ekonomi internal, sementara ekspor yang kompetitif memperluas pasar dan meningkatkan devisa negara. Keseimbangan antara keduanya menjadi kunci dalam menciptakan fondasi ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di tengah dinamika global yang terus berubah.
“Aktivitas ekonomi domestik memiliki porsi yang lebih besar dalam produk domestik bruto (PDB) negara, sehingga penting untuk memperkuat konsumsi lokal—terutama di tengah tantangan eksternal yang terus berlanjut dalam perekonomian global,” sebutnya dalam keterangan.
Baca Juga: Investasi dan Konsumsi Dorong Pertumbuhan, BI Targetkan Ekonomi Tumbuh Hingga 5,4%
Salah satu cara untuk melakukannya, tambahnya, adalah dengan mendorong bank untuk memberikan pembiayaan kepada sektor-sektor ekonomi yang didorong oleh bisnis. Upaya semacam itu akan berkembang dalam lingkungan yang optimis.
“Kekuatan domestik kita menyumbang 80 persen dari perekonomian, sementara ekspor hanya sekitar 20 persen. Jadi kuncinya adalah bagaimana kita dapat sepenuhnya mengoptimalkan mesin-mesin ekonomi domestik kita,” katanya.
“Ada beberapa program pemerintah saat ini, seperti inisiatif Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih. Program-program ini krusial untuk menjaga stabilitas—tetapi kita tidak boleh mengabaikan sektor swasta,” kata Purbaya dalam Festival Keuangan LPS.
