ASIAWORLDVIEW – Planetary Guardians, sebuah gerakan global independen yang terdiri dari para ilmuwan, aktivis, pemimpin adat, dan tokoh masyarakat yang berkomitmen menjaga kesehatan planet Bumi. Hal itu bisa dilakukan melalui pendekatan ilmiah dan kolaboratif.
Planetary Guardians juga mendorong kolaborasi lintas disiplin dan penunjukan chief planetary scientist di tiap negara, termasuk Indonesia, untuk menggabungkan sains, kebijakan, dan kearifan lokal.
Dalam keterangan pers di Jakarta, baru-baru ini, Hindu Omaro Ibrahim berbicara mengenai fungsi Planetary Guardians. Ia menggabungkan pengetahuan tradisional masyarakat adat dengan sains modern untuk melindungi bumi dari krisis iklim.
Baca Juga: Berolahraga Sambil Menjaga Lingkungan di Garmin Run Indonesia 2025
“Setiap budaya memiliki sainsnya sendiri, dan bahwa solusi iklim yang berkelanjutan harus melibatkan komunitas yang paling terdampak. Ia adalah contoh nyata bagaimana suara perempuan adat bisa menjadi kekuatan global dalam menjaga bumi,” ia mengatakan.
Planetary Guardians memandang Indonesia sebagai kekuatan super planet—sejajar dengan Amazon dan Kongo—karena peran strategisnya dalam menjaga ekosistem global. Dalam peluncuran alat pemantauan Planetary Health Check, Indonesia menjadi sorotan karena keanekaragaman hayati yang luar biasa: Indonesia memiliki salah satu tingkat biodiversitas tertinggi di dunia. Sayangnya, masih banyak yang perlu diperbaiki.
Indonesia juga memiliki jumlah masyarakat adat yang besar. Kondisi ini Pengetahuan lokal dianggap penting untuk melengkapi sains modern.
Negara ini mulai menggunakan Planetary Health Check untuk mengukur kesehatan lingkungan berdasarkan sembilan indikator seperti perubahan iklim, pengasaman laut, dan integritas biosfer2.
Farwiza Farhan dan Fitry Pakiding menerima penghargaan dari Planetary Guardians atas kontribusi mereka dalam pelestarian lingkungan dan integrasi pengetahuan adat.
