ASIAWORLDVIEW – Fluktuasi nilai tukar dan gejolak global, investor kripto di Indonesia terlihat mulai beralih ke aset yang lebih stabil seperti stablecoin, khususnya Tether (USDT). Data dari Bappebti menunjukkan bahwa USDT telah menjadi aset kripto paling banyak diperdagangkan di Indonesia selama dua tahun terakhir, mengungguli Bitcoin, Ethereum, hingga Solana.
“USDT telah menjadi jangkar utama dalam aktivitas trading lokal. Selain menawarkan stabilitas harga, USDT juga digunakan investor sebagai alat lindung nilai terhadap volatilitas rupiah,” Wan Iqbal, Chief Marketing Officer Tokocrypto mengatakan, dikutip Asiaworldview.com, Jumat (11/4/2025).
Popularitasnya didorong oleh stabilitasnya sebagai stablecoin yang nilainya dipatok pada dolar AS. Akhirnya, memberikan kepercayaan lebih kepada para investor dibandingkan dengan aset kripto yang lebih volatil seperti Bitcoin, Ethereum, atau Solana.
Baca Juga: Bos Tokocrypto: Situasi Ekonomi Global Saat Ini Membuat Investor Lebih Berhati-hati
Selain itu, Indonesia memiliki ekosistem kripto yang berkembang pesat, dengan lebih dari 18 juta pengguna kripto pada tahun 2024. USDT sering digunakan untuk transaksi dan perdagangan karena kemampuannya untuk mempertahankan nilai yang stabil, menjadikannya pilihan utama bagi banyak investor di pasar yang dinamis ini.
Menurut data yang dihimpun dari CoinMarketCap, volume perdagangan USDT di tiga platform perdagangan kripto terbesar di Indonesia telah melampaui angka USD7 miliar sejak awal 2024. Di Tokocrypto, pasangan perdagangan USDT/IDR menyumbang lebih dari 25% dari total volume harian dalam 24 jam terakhir dengan transaksi terbesar di antara platform lain.
“Dominasi ini juga memperkuat posisi USDT sebagai gateway untuk masuk ke berbagai platform DeFi atau aplikasi crypto lainnya,” jelas Iqbal.
Iqbal menambahkan bahwa stabilitas USDT membantu mempertahankan likuiditas dan menjadi alternatif menarik bagi investor yang ingin menjaga arus kas tanpa perlu terpapar risiko fluktuasi harga kripto secara langsung.
