Bos Tokocrypto: Situasi Ekonomi Global Saat Ini Membuat Investor Lebih Berhati-hati

CMO Tokocrypto, Wan Iqbal, 

ASIAWORLDVIEW – Ketidakpastian global memang melonjak setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif besar-besaran terhadap negara-negara mitra dagang. Kebijakan ini, yang dikenal sebagai “Liberation Day Tariffs,” menetapkan tarif dasar 10% untuk hampir semua negara, dengan tarif lebih tinggi untuk negara-negara yang dianggap memiliki hubungan perdagangan yang “paling tidak adil” dengan AS.

Dampaknya sangat luas, mulai dari penurunan tajam di pasar saham global hingga kekhawatiran akan inflasi dan resesi. Negara-negara seperti China menghadapi tarif hingga 104%, sementara negara-negara ASEAN seperti Vietnam dan Thailand juga terkena tarif tinggi. Kebijakan ini telah memicu reaksi keras dari mitra dagang AS, termasuk ancaman tindakan balasan.

“Situasi makro saat ini memaksa investor untuk lebih berhati-hati, terutama terhadap aset berisiko. Bitcoin sempat mengalami koreksi lebih dari 25% dari titik tertingginya, dan altcoin juga menunjukkan hal yang sama,” ujar Wan Iqbal, Chief Marketing Officer Tokocrypto, dikutip Asiaworldview.com, Jumat (11/4/2025).

Baca Juga: Imbas Trump Tariff: Harga Saham Turun dan Picu Ketegangan Ekonomi Global

Sentimen risk-off yang ditimbulkan berdampak luas, mulai dari koreksi tajam di pasar saham global, pelemahan nilai tukar Rupiah, hingga meningkatnya aksi jual di pasar kripto domestik.

IHSG sempat mencatat aksi panic selling dan Rupiah terus melemah terhadap dolar AS, dengan nilai tukar USD/IDR spot menyentuh Rp16.864 dan sempat melampaui Rp17.000 di pasar offshore. Di tengah kondisi ini, pelaku pasar mulai mengadopsi pendekatan defensif.

“Penurunan volume perdagangan serta minimnya minat beli menandakan bahwa pasar masih dalam fase konsolidasi, dengan tekanan jual yang belum sepenuhnya mereda. Kondisi ini mendorong investor untuk sementara waktu mengalihkan fokus ke aset mayor seperti Bitcoin dan stablecoin, sembari menghindari altcoin spekulatif yang cenderung lebih rentan terhadap fluktuasi tajam,” ia menambahkan.