ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin sempat anjlok ke bawah level psikologis USD100.000 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan. Namun, pada Minggu malam, Bitcoin berhasil pulih dan kembali diperdagangkan di atas USD101.000, menunjukkan ketahanan pasar kripto meski di tengah gejolak global.
Penurunan tajam sebelumnya dipicu oleh aksi jual besar-besaran karena investor menghindari aset berisiko. Total likuidasi di pasar kripto bahkan mencapai lebih dari USD1 miliar dalam 24 jam terakhir. Meski begitu, beberapa analis menilai bahwa koreksi ini bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang, mengingat fundamental Bitcoin tetap kuat
Kenaikan ini terjadi bersamaan dengan pergerakan emas yang moderat dan reaksi yang diredam di pasar minyak dan ekuitas berjangka, yang menandakan bahwa para pedagang mengharapkan konflik yang terkendali daripada guncangan geopolitik yang berkelanjutan.
Baca Juga: Konflik Iran-Israel Mulai Pengaruhi Pasar Kripto
Operasi AS, yang dilakukan dengan berkoordinasi dengan Israel, menargetkan Fordow, Natanz, dan Isfahan dengan menggunakan lebih dari 125 pesawat dan amunisi penghancur bunker.
Iran merespons dengan serangan rudal dan pesawat tak berawak di kota-kota Israel dan mengancam akan menyerang pangkalan militer AS di Teluk.
Menteri Luar Negeri Iran juga terbang ke Moskow pada hari Minggu untuk melakukan konsultasi darurat, sementara Presiden Trump mengisyaratkan jeda dalam aksi militer AS lebih lanjut.
Meskipun terjadi eskalasi, pasar stabil dengan cepat. Emas sempat mencapai USD3.398 sebelum turun ke USD3.374, sementara minyak memangkas lonjakan awal dan berakhir naik hanya 0,5%.
“Pasar masih mengharapkan perang yang berumur pendek,” tulis The Kobeissi Letter di X, mencatat bahwa minyak masih jauh di bawah level yang secara historis terkait dengan gangguan di Selat Hormuz.
