ASIAWORLDVIEW – Trump Tariff yang diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, terus melukai pasar global. Para ahli seperti JPMorgan memprediksi resesi AS akan terjadi tahun ini. Perkembangan ini signifikan mengingat bagaimana hal ini dapat berdampak pada pasar kripto, meskipun tidak seperti yang diperkirakan beberapa orang.
Dalam sebuah wawancara dengan CNBC, kepala ekonom JPMorgan, Bruce Kasman, mengungkapkan bahwa mereka telah meningkatkan peluang resesi AS menjadi 60% setelah pengumuman tarif Donald Trump pada awal pekan ini. Deutsche Bank juga telah menaikkan probabilitas resesi menjadi 50%.
Sementara itu, sebelum pengumuman Trump, Goldman Sachs menaikkan kemungkinan resesi dari 20% menjadi 35%. Komentator pasar The Kobeissi Latter menyatakan bahwa resesi tidak mungkin dihindari jika tarif ini terus berlanjut. Para trader juga bertaruh pada penurunan tahun ini. Pada platform prediksi Kalshi, peluang terjadinya resesi telah melonjak menjadi 61%.
Baca Juga: Imbas Trump Tariff: Harga Saham Turun dan Picu Ketegangan Ekonomi Global
Resesi AS sangat signifikan mengingat dampaknya terhadap pasar global. Pasar saham telah memasuki wilayah pasar bearish setelah Donald Trump mengumumkan tarif pada hampir semua negara pada 2 April.
Dengan demikian, resesi hanya akan menyebabkan pasar saham dan pasar-pasar lain jatuh lebih dalam. Namun, di tengah tren penurunan di pasar global ini, pasar kripto, yang dipimpin oleh Bitcoin, telah menunjukkan kekuatan yang mengesankan.
Analisis pasar CoinGape mencatat bahwa Bitcoin telah terlepas dari saham. Kripto unggulan ini hanya turun 5,51% sementara S&P 500 telah jatuh 12% selama tiga hari. Penjelasan yang masuk akal adalah bahwa investor pasar melihat BTC sebagai pelarian ke tempat yang aman di tengah penurunan pasar, yang tidak diragukan lagi bullish untuk pasar kripto, terutama jika resesi AS terjadi.
