ASIAWORLDVIEW – Pala Papua, juga dikenal sebagai pala Fakfak, adalah rempah khas dari Papua Barat yang memiliki nilai budaya dan ekonomi tinggi. Pohon pala dianggap sebagai simbol kehidupan oleh masyarakat adat di Fakfak, dan tradisi seperti wewowo dilakukan untuk menjaga kelestarian pohon ini.
Pala Papua memiliki potensi besar di pasar global, terutama dalam industri parfum. Minyak pala Fakfak telah menarik perhatian merek-merek ternama seperti Chanel dan Hermes, berkat kualitasnya yang unik. Selain itu, perempuan adat di Fakfak memainkan peran penting dalam pengolahan pala, mulai dari membersihkan hingga menjemur buah dengan teknik tradisional dan modern.
Mama Siti menjelaskan para petani perempuan ini mempertahankan tradisi. Ia juga memperjuangkan kelestarian hutan dan meningkatkan kesejahteraan komunitas mereka melalui inovasi berkelanjutan.
Mama Siti menjelaskan, “Pohon pala di hutan desa dusun pala, Desa Pangwadar, Kecamatan Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat rata-rata sudah banyak, jadi tugas laki-laki biasanya hanya memanjat pohon untuk mengambil buah yang sudah matang. Untuk pengolahannya, sejauh ini sudah ada 118 wanita yang membersihkan buah pala, memisahkan daging dan bijinya, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari.”
Mama Siti adalah petani pala sekaligus dewan pengawas anggota koperasi yang dipimpin oleh perempuan adat di Papua Barat. Ia menjadi teladan dalam menerapkan keterampilan dan ketelatenan serta memimpin perempuan dalam mengolah pala menjadi produk siap jual.
Baca Juga: Parfum Lokal Mulai Bersinar dengan Tawarkan Aroma Unik dan Tahan Lama
Bagi masyarakat adat Papua Barat, pohon pala melambangkan kehidupan itu sendiri. Dianggap sebagai “penjelmaan perempuan”, pohon pala memainkan peran penting dalam menopang masyarakat, dan tabu yang ketat melarang penebangan pohon-pohon ini. Rasa hormat yang mendalam terhadap pohon pala telah menyebabkan tradisi unik seputar panennya, menunjukkan hubungan masyarakat yang berkelanjutan dengan alam.
Sayangnya, harga jual pala yang rendah dan siklus panen yang hanya dua kali setahun membuat banyak petani kesulitan secara ekonomi. Banyak di antara mereka yang hanya memiliki pekerjaan musiman dan kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Harga pala seringkali fluktuatif dan tidak menentu tergantung musim. Ketika harga turun, pendapatan dari pala hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat musim panen berakhir, banyak dari kami terpaksa harus beralih profesi untuk menunjang kebutuhan keluarga masing-masing.” tambah Mama Siti.
“Pohon pala Tomandin bukan sekadar pohon bagi kami. Ini adalah warisan dari nenek moyang kami yang hidup dari generasi ke generasi untuk memberi kami kehidupan. Saya hanya bisa mengatakan bahwa pala Tomandin adalah keajaiban bagi kami,” ujarnya
