ASIAWRORDLVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) baru-baru ini mengalami penurunan yang cukup signifikan, mencapai level 6.076 poin pada tanggal 18 Maret 2025. Hal ini menandai penurunan lebih dari 5%, yang menyebabkan penghentian perdagangan sementara di Bursa Efek Indonesia.
IHSG ke titik terendah baru-baru ini memiliki beberapa dampak signifikan terhadap perekonomian dan investor. Hal ini menyebabkan berkurangnya kepercayaan investor, baik di dalam maupun luar negeri. Kemudian, mengakibatkan arus keluar modal lebih lanjut, mengutip dari Business Insider.
Penurunan ini meningkatkan volatilitas pasar, sehingga menyulitkan investor untuk memprediksi pergerakan pasar dan merencanakan investasi mereka. Pasar saham yang menurun dapat memengaruhi ekonomi yang lebih luas, karena dapat menandakan masalah ekonomi yang mendasari atau penurunan profitabilitas perusahaan.
Baca Juga: IHSG Jatuh, IDX dan OJK Siapkan Langkah Stabilkan Pasar
Perusahaan yang terdaftar di bursa saham dapat menghadapi kesulitan dalam meningkatkan modal melalui pasar ekuitas. Akhirnya, berdampak pada pertumbuhan dan operasi mereka.
Penurunan seperti itu sering kali mendorong pemerintah dan badan pengatur untuk melakukan intervensi, baik melalui kebijakan moneter atau langkah-langkah stabilisasi pasar.
Kondisi ini juga membuat investor bersikap hati-hati karena kekhawatiran akan stabilitas ekonomi global, yang mengarah pada pendekatan “wait and see”. Kondisi ini mendapatkan pandangan negatif dari lembaga-lembaga keuangan besar seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs telah berdampak pada kepercayaan terhadap pasar Indonesia. Hal ini termasuk kekhawatiran akan risiko fiskal, defisit anggaran, dan depresiasi mata uang.
Arus keluar investasi asing yang signifikan, sebesar Rp26,9 triliun, telah tercatat. Hal ini diperparah oleh aksi panic selling di kalangan investor.
