ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin hari ini, Jumat (5/6/2026), berada di kisaran USD 62.509,6 per BTC. Angkanya turun sekitar 2,85% dibandingkan sesi sebelumnya.
Rentang perdagangan harian tercatat antara USD 62.482 hingga USD 63.942, menandakan volatilitas yang cukup tinggi. Posisi ini masih jauh di bawah puncak USD 126.000 yang dicapai dalam 52 minggu terakhir, sekaligus memperlihatkan tren penurunan tajam sejak awal Juni, ketika Bitcoin sempat jatuh dari USD 71.000 ke bawah USD 67.000.
Pelemahan harga ini dipicu oleh beberapa faktor utama. Arus keluar besar dari ETF Bitcoin spot yang mencapai lebih dari USD 3,4 miliar dalam beberapa sesi terakhir, menekan permintaan institusional.Gelombang likuidasi kripto berleverage senilai USD 1,8–1,9 miliar mempercepat penurunan harga, mencerminkan tekanan besar di pasar derivatif.
Faktor geopolitik dan makroekonomi seperti ketegangan di Timur Tengah, kebijakan tarif baru AS. Selain itu, ekspektasi kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve mendorong investor keluar dari aset berisiko, termasuk kripto.
Baca Juga: Bitcoin Terkoreksi ke USD64.000, Altcoin HYPE Justru Bersinar
Dampaknya terlihat jelas di pasar: volume perdagangan Bitcoin melonjak 56% dalam 24 jam terakhir hingga mencapai USD 3,4 miliar, menunjukkan tekanan jual yang masif.
Sentimen investor juga semakin melemah, tercermin dari Indeks Crypto Fear and Greed yang turun ke level 19, mendekati wilayah “Extreme Fear.” Selain Bitcoin, aset kripto lain seperti XRP juga mencatat arus keluar ETF, memperkuat tren risk-off di pasar digital.
Ke depan, konsensus pasar memperkirakan harga Bitcoin akan bergerak di kisaran USD 66.000–68.000 sebagai level realistis jangka pendek. Namun, pemulihan diperkirakan lebih bergantung pada meredanya kekhawatiran inflasi global dan stabilisasi likuiditas, bukan hanya faktor internal kripto.
Jika tekanan eksternal mereda, harga Bitcoin berpotensi kembali ke atas USD 67.000 dalam beberapa minggu mendatang. Dengan kondisi ini, investor disarankan lebih berhati-hati, mengingat volatilitas tinggi dan sentimen pasar yang sedang berada di wilayah ketakutan ekstrem.
