ASIAWORLDVIEW – Seni lukis dan rupa di Indoensia mengalami pertumbuhan yang cukup siginifikan. Bahkan, ikut membantu dalam roda perekonomian.
Dadam Mahdar, Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Kementerian Ekonomi Kreatif, menyampaikan pandangannya bahwa pengembangan seni rupa di Indonesia tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang solid. Ia menekankan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja tanpa dukungan dari dunia usaha, komunitas, akademisi, media, dan lembaga keuangan.
“Sinergi semacam ini menjadi kunci untuk mempertemukan seniman dengan pembeli dan kolektor, sehingga karya seni tidak hanya berhenti sebagai objek apresiasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang nyata. “Pemerintah tidak bisa sendiri. Kami yakin dengan bantuan teman-teman UOB, ketemulah antara seniman dan buyer,” ujar Dadam dalam acara yang berlangsung di Jakarta Selatan.
Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian Ekraf/Badan Ekraf memperlihatkan bagaimana sektor ekonomi kreatif bergerak pada 2025 sekaligus menjadi dasar target pada 2026. Secara umum, empat indikator utama yang dipakai adalah investasi Ekraf, nilai ekspor Ekraf, tenaga kerja Ekraf, dan laju pertumbuhan PDB Ekraf. Masing-masing dibandingkan antara target 2025 dalam RPJMN, capaian 2025, persentase capaian, keterangan tambahan, lalu target 2026 dan capaian sementara 2026.
Pada indikator investasi Ekraf, target 2025 berada di kisaran 7,66–8,43 miliar USD. Realisasinya justru mencapai 11,32 miliar USD, atau 134% dari target. Artinya, capaian ini tidak hanya terlampaui, tetapi cukup jauh di atas rentang yang ditetapkan. Keterangan pada slide menyebut angka itu setara dengan 9,48% dari total realisasi investasi nasional. Ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bukan lagi sektor pinggiran, melainkan salah satu penopang arus investasi di Indonesia. Untuk 2026, target RPJMN dipasang pada 8,10–9,06 miliar USD.
Terkait target pertumbuhan, Dadam memaparkan bahwa pemerintah menargetkan pertumbuhan PDB sebesar 5,7 persen pada 2026, dengan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB nasional ditargetkan mencapai 7,38 persen. Ia menyebut capaian PDB pada 2025 telah mencapai 6,86 persen, dan jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan, capaian rata-rata persentasenya telah mencapai 124 persen.
“Nah tadi, ada yang disebut laju pertumbuhan PDB. Nah PDB ini kan pertumbuhan di dalam negerinya. Target kita di 2026 5,7, dan kontribusinya terhadap PDB nasional dari Ekraf itu 7,38 persen,” jelasnya.
Baca Juga: Urban Realism Layers Jadi Karya Terbaik UOB Painting of the Year 2026
Lebih lanjut, Dadam menjelaskan bahwa pemerintah mendorong penguatan ekosistem seni rupa melalui lima mata rantai industri kreatif, yakni kreasi, produksi, distribusi, konsumsi, dan konservasi. Pada tahap kreasi, pemerintah memberikan dukungan melalui inkubasi dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas seniman.
Sementara pada tahap produksi, pendampingan diarahkan pada peningkatan kualitas karya, pengemasan, hingga kemampuan membaca kebutuhan pasar.
“Bagaimana produksinya itu bisa bagus, pengemasannya, bahkan kita dampingi bagaimana produksi-produksi tersebut bisa diminati oleh pasar saat ini,” jelasnya.
Ia menilai bahwa keterlibatan dunia usaha menjadi sangat penting pada tahap distribusi, karena seniman membutuhkan akses yang lebih luas agar karya mereka dapat bertemu dengan pembeli dan kolektor. Menurutnya, pameran juga tidak cukup hanya menjadi ruang apresiasi; interaksi antara seniman, pengunjung, dan kolektor perlu diarahkan untuk membuka peluang transaksi sehingga karya memiliki nilai ekonomi.
“Bagaimana nanti dengan para pengunjung, tapi juga ada transaksi dengan kolektor dan sebagainya,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Dadam juga menyoroti capaian sektor ekonomi kreatif, khususnya subsektor seni rupa, yang turut berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Ia menyebutkan bahwa dari total 27,40 juta tenaga kerja ekonomi kreatif pada 2025, sekitar 63 persen di antaranya berasal dari generasi Z dan milenial, sementara 22 persen merupakan perempuan.
“Tenaga kerja yang sudah kita hitung bahwa di keterangan ini ada 63 persen Gen Z dan milenial, 22 persen perempuan inklusif dan berkelanjutan. Kontribusi subsektor seni rupa terhadap keseluruhan ekonomi kreatif masih berada di kisaran 5–7 persen, dan perhitungan tersebut masih digabungkan dengan 17 subsektor ekonomi kreatif lainnya,” pungkasnya.
