ASIAWORLDVIEW – Sektor ritel modern memiliki peran strategis yang jauh melampaui fungsi utamanya sebagai tempat jual beli produk. Kehadirannya menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan konsumsi rumah tangga, serta penguatan rantai pasok dari produsen hingga konsumen akhir.
Menteri Perdagangan Budi Santoso ritel modern juga membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk lokal, termasuk UMKM, sehingga membantu meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Selain berkontribusi terhadap penerimaan negara melalui pajak dan investasi, sektor ini turut mendorong transformasi digital melalui penerapan teknologi pembayaran, manajemen inventori, dan layanan berbasis data.
“Jaringan ritel modern berfungsi sebagai gerbang kritis untuk kurasi dan standardisasi produk. Ketika UMKM berhasil menembus ruang ritel modern, hal itu memvalidasi bahwa standar kualitas—yang didukung oleh organisasi seperti Badan Standardisasi Nasional (BSN)—telah berhasil memenuhi ekspektasi konsumen,” sebutnya dalam sambutannya pada peresmian Hari Ritel Nasional 2026 di Bandung, Jawa Barat, pada Senin (2/11/2026).
Mendag Budi mencatat bahwa kolaborasi pemerintah dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) telah berhasil mengintegrasikan produk lokal. Kini menyumbang hampir 80 persen dari inventaris ritel modern. Produk dalam negeri telah mendapatkan tempat yang signifikan di rak-rak toko modern, bersaing dengan produk impor tidak hanya dari segi harga tetapi juga kualitas dan daya tarik bagi konsumen.
Budi menyoroti kisah sukses seperti PUKA (Pulas Katumbiri), sebuah UMKM yang memproduksi aksesori buatan penyandang disabilitas. Kisah ini penting karena menunjukkan bahwa dampak sosial dan dampak ekonomi dapat berjalan beriringan: sebuah usaha yang memberdayakan penyandang disabilitas juga mampu bersaing di pasar global.
Baca Juga: Mendag Budi Santoso: Pangan Adalah Hak Hidup, Bukan Instrumen Geopolitik
Data dari TEI 2026—yang digelar di Jakarta pada 14–18 Oktober—sebagai bukti jelas meningkatnya minat global. Jumlah peserta pameran tumbuh dari 1.500 menjadi 1.873, sementara partisipasi pembeli internasional naik dari 8.045 menjadi 9.600. Pameran tersebut menghasilkan total potensi nilai transaksi ekspor sebesar US$22,094 miliar, dengan UMKM menyumbang US$510 juta di antaranya.
Momentum ini semakin diperkuat oleh 426 nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani—termasuk 168 yang finalisasi pada hari pembukaan saja dengan nilai US$13,2 miliar—yang didorong oleh inisiatif business matching virtual dan fisik sepanjang tahun.
Untuk mempertahankan jangkauan global ini, Kementerian Perdagangan memelihara jaringan 46 perwakilan dagang—termasuk Atase Perdagangan dan Indonesia Trade Promotion Centers (ITPC) —di 33 negara. Jaringan ini berfungsi sebagai mata dan telinga Indonesia di pasar internasional, membantu pelaku usaha memahami regulasi setempat, menemukan mitra bisnis, dan mempromosikan produk Indonesia.
