ASIAWORLDVIEW – Di ajang Snapdragon Summit di Hawaii, Qualcomm memperkenalkan platform baru yang posisinya bukan sekadar chip audio biasa, melainkan fondasi untuk generasi berikutnya dari perangkat dengar pintar. Platform itu bernama Snapdragon Sound Elite Gen 2, dan pendekatannya cukup jelas: earbuds serta headphone tidak lagi hanya berfungsi sebagai pemutar musik, tetapi juga sebagai perangkat yang bisa memahami lingkungan sekitar.
TWS ini membantu pengguna tanpa selalu bergantung pada ponsel. Ini adalah platform audio premium pertama Qualcomm yang dirancang khusus dengan konsep personal AI di dalamnya. Artinya, Qualcomm ingin menggeser kategori hearables dari aksesori pasif menjadi perangkat komputasi yang selalu tersedia, dengan pemrosesan audio berkualitas tinggi, teknologi suara, kecerdasan on-device, dan konektivitas yang lebih mandiri dalam satu solusi terpadu.
Dari sisi audio, Snapdragon Sound Elite Gen 2 membawa sejumlah kemampuan yang relevan untuk penggunaan sehari-hari. Ada dukungan aptX Lossless untuk streaming nirkabel beresolusi tinggi, lalu XPAN yang memungkinkan jangkauan koneksi melampaui batas Bluetooth biasa.
Baca Juga: OPPO Enco X4 Bocor: TWS Premium dengan ANC Mumpuni dan AI Real-Time Translation
Platform ini juga dilengkapi adaptive active noise cancellation generasi kelima, teknologi cVc milik Qualcomm untuk penekanan gema dan noise, serta dukungan multi-mikrofon. Kombinasi itu penting bukan hanya untuk mendengarkan musik, tetapi juga untuk panggilan suara dan interaksi dengan asisten Artificial Intelligence di tempat yang bising.
Dalam praktiknya, ini bisa berarti suara lawan bicara lebih jelas, perintah suara lebih mudah dikenali, dan pengalaman mendengarkan tetap nyaman meski berada di keramaian. Bagi media techno, peningkatan semacam ini menandakan bahwa kualitas audio kini tidak lagi hanya soal codec atau driver, tetapi juga soal kemampuan perangkat memahami konteks suara di sekitarnya.
Konektivitas menjadi salah satu pembeda utama. Snapdragon Sound Elite Gen 2 memiliki micro-power Wi-Fi 6E built-in, sehingga perangkat yang kompatibel dapat terhubung langsung ke asisten AI. Ini membuka skenario di mana earbuds bisa menjalankan tugas tertentu tanpa harus selalu meminta ponsel sebagai perantara. Bluetooth tetap didukung, jadi produsen punya fleksibilitas untuk memilih jalur koneksi sesuai kebutuhan produk.
Platform ini juga dirancang untuk berbagai bentuk perangkat: true wireless earbuds, headphone over-ear, desain open-ear, kacamata audio, earbuds dengan kamera, hingga wearable multimodal yang masih berkembang. Qualcomm bahkan menyediakan reference design untuk membantu merek mempercepat perjalanan dari prototipe ke produk jadi. Dalam bahasa industri, langkah ini menunjukkan Qualcomm tidak hanya menjual chip, tetapi juga membangun ekosistem agar adopsi personal AI di perangkat audio bisa lebih cepat dan seragam.
Peningkatan performa di bawah kapnya cukup signifikan. Dibandingkan Snapdragon S7 Gen 1 Sound Platform yang sebelumnya menawarkan 64 GOPS komputasi AI dan 128 operasi MAC per siklus, platform baru ini menaikkan angka tersebut menjadi 128 GOPS dan 256 operasi MAC per siklus. Artinya, kemampuan komputasi AI-nya lebih dari dua kali lipat. Dengan tenaga sebesar itu, perangkat bisa menjalankan beberapa fitur pintar secara bersamaan, misalnya pemrosesan audio adaptif, pengenalan suara, dan tugas AI lain tanpa harus membebani satu komponen saja.
Tak kalah penting, konsumsi dayanya turun hingga 40 persen dan jejak fisiknya menyusut sampai 30 persen. Dua angka terakhir ini krusial karena earbuds punya ruang sangat terbatas; peningkatan performa tanpa lonjakan daya dan ukuran adalah kombinasi yang sulit, dan di sinilah Qualcomm tampaknya ingin menunjukkan keunggulan rekayasa mereka.
Secara keseluruhan, Snapdragon Sound Elite Gen 2 adalah upaya Qualcomm untuk mengubah audio wearable menjadi asisten AI pribadi yang selalu tersedia. Platform ini membuka jalan bagi penerjemahan real-time, bantuan kontekstual, pendengaran personal, dan interaksi multimodal yang lebih kaya.
Tentu, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh spesifikasi chip, tetapi juga oleh kesiapan produsen perangkat, ekosistem aplikasi, dan layanan AI yang berjalan di atasnya. Namun dari sisi arah teknologi, sinyalnya jelas: earbuds masa depan bukan lagi sekadar alat untuk mendengarkan, melainkan perangkat yang mendengarkan, memahami, dan membantu pengguna secara lebih mandiri. Jika ekosistemnya matang, kategori hearables bisa menjadi salah satu medan paling menarik dalam pertarungan personal AI di perangkat sehari-hari.
