Dari Sushi ke Toast: Tren Japanese-Inspired Food di Indonesia

ASIAWORLDVIEW – Kuliner Jepang di Indonesia sudah lama bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari lanskap makan sehari-hari. Sushi dan ramen mungkin masih menjadi pintu masuk yang paling dikenal, tetapi gelombang berikutnya justru datang dari sajian yang lebih kasual: onigiri, takoyaki, agemono, hingga berbagai gorengan khas Jepang yang mudah ditemui di mal, food court, atau bahkan gerai pinggir jalan.

Sebuah studi tentang perilaku Gen Z dalam memilih Japanese food di Jakarta Selatan pada 2025 menunjukkan bahwa 45% responden mengonsumsi makanan Jepang 1–2 kali per bulan, 35% mengonsumsinya 3–4 kali, dan 20% lebih dari empat kali dalam sebulan. Artinya, bagi sebagian anak muda, makanan Jepang sudah setara dengan pilihan harian lain seperti ayam geprek, mie instan, atau kopi susu.

Di titik itulah Janji Jiwa, brand di bawah JIWA Group, mencoba masuk dengan pendekatan yang tidak sekadar meniru restoran Jepang. Melalui kolaborasi bertajuk “A Twist of Japan” bersama chef dan restaurateur Ray Janson, Janji Jiwa mengangkat karakter Japanese-inspired flavors ke dalam format toast yang praktis dan easy-to-go.

CEO JIWA Group, Billy Kurniawan, mengatakan bahwa kolaborasi dengan Chef Ray Janson menjadi salah satu cara untuk terus mengeksplorasi hal-hal baru dan menghadirkan pengalaman yang relevan bagi Teman Sejiwa. Menurutnya, pengalaman Ray di industri kuliner serta pendekatannya yang eksploratif terhadap makanan memiliki keselarasan dengan semangat Janji Jiwa untuk terus berinovasi.

“Melalui A Twist of Japan, kami ingin melihat bagaimana karakter toast Janji Jiwa yang sudah familiar dapat dieksplorasi melalui perspektif dan inspirasi baru,” ujarnya.

Baca Juga: Dirty Latte, Minuman Kopi Teatrikal yang Sedang Populer

Studi yang sama menempatkan cita rasa sebagai faktor utama dalam pemilihan, disusul harga, lokasi, rekomendasi media sosial, serta pengalaman yang menarik secara visual dan emosional. Data ini sejalan dengan catatan Agriculture & Food Affairs Department Kedutaan Besar Jepang di Indonesia yang menyebut jumlah restoran Jepang di Indonesia tahun ini mencapai sekitar 6.500 gerai, menjadikannya yang terbanyak di Asia Tenggara. Angka itu bukan hanya soal popularitas, tetapi juga penanda bahwa pasar Indonesia sudah matang untuk eksplorasi rasa yang lebih jauh.

Sosok Ray Janson sendiri memberi bobot pada eksplorasi tersebut. Ia adalah chef, restaurateur, dan podcaster yang telah berkiprah lebih dari 15 tahun di industri kuliner. Perjalanan profesionalnya mencakup sejumlah dapur ternama di Prancis, Australia, dan Denmark, termasuk L’Atelier de Joël Robuchon St. Germain di Paris, Quay di Sydney, serta Noma dan Kadeau di Copenhagen. Lulusan Le Cordon Bleu Paris itu kemudian melanjutkan kiprahnya di Indonesia sebagai chef, restaurateur, dan entrepreneur. Ia merupakan pemilik SEBA Blok M, sebuah Japanese izakaya and sake bar, serta dikenal melalui Ray Janson Radio, podcast yang mengangkat cerita dan figur di industri food and beverage Indonesia. Saat ini ia juga berperan sebagai Kepala Bidang Komunikasi dan Media di Dewan Kuliner Indonesia. Dengan latar belakang itu, pendekatan Ray dalam kolaborasi ini bukan sekadar menempelkan elemen Jepang pada menu yang sudah ada, melainkan mencari cara agar karakter rasa tersebut tetap dapat diterima dalam konteks makanan sehari-hari.

“Tantangannya bukan hanya bagaimana membawa inspirasi Japanese food ke dalam format yang tetap approachable, familiar, dan easy-to-enjoy untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas dan karakter produk agar tetap konsisten ke depannya,” ujar Ray.

Eksplorasi itu kemudian diwujudkan melalui dua kreasi terbaru Janji Jiwa: Goma Chicken Toast dan Menchi Beef Katsu Toast. Goma Chicken Toast memadukan toasted bread dengan ayam crispy bercita rasa pedas, kol segar, mayones creamy, saus wijen gurih, dan bawang putih goreng aromatik. Perpaduan ini menghadirkan rasa gurih yang dalam, tekstur renyah dari ayam, segar dari kol, lembut dari mayones, serta aroma wijen dan bawang putih goreng yang memperkaya keseluruhan sajian. Karakter wijen—atau goma—memberi sentuhan Jepang yang khas tanpa harus terasa asing.

Sementara itu, Menchi Beef Katsu Toast menghadirkan toasted bread dengan crispy beef menchi katsu, kol segar, dan mayones mustard creamy, serta saus Japanese-style dengan karakter rasa manis dan gurih. Menchi katsu sendiri adalah salah satu comfort food Jepang yang populer; versi toast ini membuatnya lebih ringan, mudah dimakan, dan cocok untuk dinikmati di sela aktivitas.

Kedua menu tersebut menjadi interpretasi “A Twist of Japan” terhadap bagaimana Japanese-inspired flavors dapat hadir dalam format yang lebih familiar. Bukan sebagai hidangan Jepang konvensional, melainkan sebagai everyday comfort food yang praktis dinikmati kapan saja.

Mereka membawa karakter rasa Jepang—wijen, katsu, menchi, saus manis-gurih, mayones mustard—ke dalam format yang sudah akrab bagi konsumen Indonesia: roti panggang. Dalam lanskap food media, strategi semacam ini sering disebut sebagai cultural translation: mengambil elemen dari satu tradisi kuliner, lalu menyesuaikannya dengan konteks lokal tanpa kehilangan identitas aslinya. Hasilnya bukan fusion yang memaksa, melainkan hibrida yang masuk akal. Konsumen tidak perlu memahami istilah menchi katsu atau goma untuk menikmatinya; mereka cukup merasakan kombinasi rasa yang gurih, renyah, dan mengenyangkan. Di sisi lain, bagi mereka yang sudah akrab dengan kuliner Jepang, ada lapisan pengenalan rasa yang membuat toast ini terasa lebih dari sekadar roti panggang biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *