Rupiah Rapuh di Tengah Tekanan Minyak dan Geopolitik

Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bergerak menguat tipis di pembukaan pagi pada Jumat (2/10/2026). Namun secara fundamental masih berada dalam bayang-bayang tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda. Data dari Refinitiv menunjukkan rupiah dibuka di level Rp17.925 per dolar AS, menguat 0,08 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp17.940.

Faktor utama yang menopang penguatan rupiah pagi ini adalah penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 2002. Yield US Treasury tenor 10 tahun yang sebelumnya menembus 5,34 persen pada Kamis, turun kembali ke kisaran 5,26 persen. Koreksi yield ini terjadi setelah data inflasi PCE inti AS untuk Agustus 2026 menunjukkan kenaikan 0,2 persen—lebih rendah dari perkiraan pasar—yang mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.

Probabilitas tersirat untuk kenaikan suku bunga turun tajam menjadi sekitar 34 persen, dari sebelumnya hampir 70 persen pada awal pekan . Penurunan ekspektasi ini mengurangi daya tarik aset berbasis dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk sedikit menguat. Selain itu, Bank Indonesia (BI) dilaporkan semakin intensif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menahan volatilitas rupiah, yang turut membantu menstabilkan pergerakan kurs di tengah tekanan eksternal yang masih berlanjut.

Baca Juga: BI: Pelemahan Rupiah Dipicu Sentimen Global, Bukan Domestik

Meskipun rupiah menguat tipis, tekanan eksternal belum sepenuhnya hilang. Harga minyak mentah Brent masih bertahan di level tinggi, sekitar US$102,6 per barel, dipicu oleh kekhawatiran pasokan setelah China menghentikan ekspor produk minyak di luar Hong Kong dan Makau, serta Rusia melarang ekspor diesel hingga Oktober.

Sebagai negara net importir minyak, Indonesia menghadapi risiko peningkatan kebutuhan valuta asing untuk impor energi, yang pada gilirannya dapat menekan rupiah. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah—terutama setelah AS mengerahkan kapal induk tambahan dan sinyal kemungkinan berlanjutnya serangan udara terhadap Iran—menjaga premi risiko tetap tinggi di pasar global.

Dari sisi kebijakan moneter, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menurun, yield US Treasury tenor panjang masih bertahan di level tinggi (di atas 5 persen), yang secara struktural masih menopang indeks dolar AS (DXY) di level 102,107. Yield yang tinggi ini menjadi biaya peluang (opportunity cost) bagi investor untuk menempatkan dana di aset negara berkembang, sehingga penguatan rupiah cenderung terbatas.

Dari dalam negeri, pasar masih mencermati respons terhadap reshuffle kabinet yang diumumkan pada Kamis (1/10/2026). Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa sentimen risk-off di pasar domestik cukup kuat menyusul respons negatif investor terhadap isu reshuffle, yang ikut membebani rupiah. Meskipun data makroekonomi domestik—seperti surplus neraca perdagangan Agustus sebesar USD3,55 miliar, inflasi September yang lebih rendah dari perkiraan, dan PMI Manufaktur Indonesia yang kembali ke zona ekspansi di 52,4—sebenarnya cukup solid, sentimen pasar terhadap dinamika politik domestik tampaknya masih menjadi faktor yang menahan penguatan rupiah lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *