IHSG Jatuh 61 Poin ke 6.009, Tren Negatif Berlanjut

Ilustrasi pergerakan harga saham.

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali ditutup melemah 61,64 poin atau 1,02 persen ke level 6.009,50 pada Jumat (2/10/2026). Kondisi ini memperpanjang tren negatif menjadi enam hari beruntun dan menempatkannya sebagai posisi terendah dalam lebih dari dua bulan terakhir. Indeks LQ45 juga ikut tertekan, turun 8,80 poin atau 1,46 persen ke level 592,38, mencerminkan pelemahan yang merata di saham-saham unggulan.

Meskipun IHSG sempat dibuka menguat 8,58 poin atau 0,14 persen ke level 6.018,08 pada pagi hari, momentum positif itu tidak bertahan lama. Indeks dengan cepat berbalik arah dan menyentuh level terendah di 5.981,44 sebelum akhirnya bertahan tipis di atas ambang psikologis 6.000 pada penutupan. Sepanjang sepekan, IHSG tercatat melemah 4,02 persen, sementara dalam sebulan terakhir koreksinya mencapai 9,72 persen.

Faktor domestik yang paling dominan menekan IHSG hari ini adalah ketidakpastian pasca-reshuffle Kabinet Merah Putih yang diumumkan pada Kamis (1/10). Menurut data BRI Danareksa Sekuritas, sentimen pasar dipengaruhi ketidakpastian arah kebijakan ekonomi setelah perombakan kabinet, di tengah rupiah dan pasar saham yang masih berada dalam tekanan.

Baca Juga: Defisit Neraca Berjalan Melebar, BI Fokus Jaga Stabilitas Rupiah

Tekanan jual cukup luas dengan 450 saham melemah, sementara investor asing mencatat net sell sekitar Rp240 miliar di pasar reguler. Pengamat pasar modal Hendra Wardana menilai pelemahan indeks tidak bisa semata-mata dibaca sebagai respons negatif terhadap menteri baru, melainkan kombinasi ketidakpastian arah kebijakan, depresiasi rupiah, arus modal asing yang keluar, serta lonjakan harga minyak dunia yang mendekati level USD100 per barel.

Dari sisi eksternal, harga minyak mentah Brent ditutup menguat 4,4 persen ke level USD102 per barel pada Kamis, dipicu oleh laporan bahwa AS mengirimkan kapal induk perang ketiga ke wilayah Timur Tengah. Sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga energi ini berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar rupiah, yang pada gilirannya membebani pasar saham domestik.

Selain itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun masih bertahan di level tinggi sekitar 5,25 persen, meskipun sempat turun 5 basis poin dari level tertinggi sejak 2002. Pasar juga mencermati data ketenagakerjaan AS (Nonfarm Payrolls) yang akan dirilis Jumat malam waktu Indonesia, yang menjadi petunjuk penting arah kebijakan suku bunga The Fed.

Dari sisi sektoral, delapan dari sebelas sektor berada di zona merah dan membebani pergerakan IHSG. Penurunan terdalam terjadi pada sektor teknologi yang tercermin dari IDX-Techno turun 1,79 persen, disusul IDX-Infra melemah 0,58 persen dan IDX-Finance turun 0,38 persen . Saham-saham yang menjadi penekan utama antara lain PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) yang anjlok 6,81 persen ke Rp1.505, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang turun 3,57 persen ke Rp27, dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang terkoreksi 2,10 persen ke Rp50. Di sisi lain, beberapa saham masih mampu menguat, seperti PT Astra International Tbk (ASII) yang naik 1,33 persen ke Rp4.570, PT Alamtri Resources Tbk (ADRO) yang menguat 1,24 persen ke Rp2.440, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang bertambah 1,22 persen ke Rp24.950.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *