ASIAWORLDVIEW – Pameran kerajinan terbesar di Asia Tenggara, The Jakarta International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2026, kembali hadir melalui INACRAFT October 2026 Vol. 5–Youthpreneurs. Kegiatan ini digelar pada 7–11 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Mengusung tema “Technocraft”.
Pameran ini diselenggarakan oleh Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) dan mengangkat teknologi sebagai salah satu penggerak transformasi industri kriya nasional. Langkah ini penting karena industri kriya adalah sektor padat karya yang menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, menyebar di berbagai daerah, dan memiliki keterkaitan kuat dengan ekonomi pedesaan, pariwisata, serta ekspor.
Ketua Umum ASEPHI, Muchsin Ridjan, menegaskandalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (6/10/2026), bahwa teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan perajin, melainkan memperkuat proses produksi, desain, pengembangan material, pemasaran, hingga akses pasar internasional. Ini adalah strategi intensifikasi teknologi yang inklusif.
“Teknologi diposisikan sebagai pelengkap (complement) bagi keterampilan manusia, bukan substitusi yang mematikan lapangan kerja. Konsep ini juga mendorong generasi muda atau youthpreneurs untuk menghasilkan produk kriya yang inovatif dan bernilai tambah tanpa meninggalkan identitas budaya Indonesia, ia mengatakan.
Baca Juga: Keindahan Batik Nusantara: Warisan Budaya yang Tak Pernah Habis
Untuk memperkuat aspek riset dan inovasi, ASEPHI berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK), serta sejumlah perguruan tinggi dan institusi pendidikan, termasuk Universitas Indonesia (UI) dan Institut Seni Indonesia (ISI). Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan pelaku industri dengan kapasitas riset, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia. Dalam perspektif ekonomi kelembagaan, kemitraan semacam ini menekan biaya inovasi yang biasanya terlalu tinggi untuk di tanggung pelaku usaha kecil, sekaligus mempercepat difusi teknologi ke tingkat UMKM.
“INACRAFT bukan sekadar event tahunan, ini menjadi pasar temporer yang mempertemukan sisi penawaran dan permintaan, mempercepat transaksi ekspor, dan memperkuat citra Indonesia sebagai pusat kriya dunia. Dampaknya dapat terasa pada peningkatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi daerah, dan transformasi industri kriya menuju model yang lebih produktif, inklusif, dan berkelanjutan,” ia menambahkan.
Namun, industri ini juga menghadapi tantangan klasik: produktivitas terbatas, akses pasar yang timpang, desain yang belum selalu mengikuti selera global, dan keterbatasan adopsi teknologi. Tema “Technocraft” mencoba menjawab tantangan tersebut dengan mendorong pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing, tanpa mengorbankan identitas budaya yang menjadi nilai jual utama kriya Indonesia.
INACRAFT 2026 diproyeksikan diikuti sekitar 900 peserta dari pelaku usaha, pemerintah daerah, BUMN, dan mitra industri. Selain menjadi ajang pameran, kegiatan ini ditargetkan mempertemukan pelaku usaha dengan buyer, distributor, dan mitra bisnis guna membuka peluang kerja sama, memperluas jaringan distribusi, serta mendorong produk kriya Indonesia menembus pasar yang lebih luas.

