Rupiah Menguat Tipis, Konflik AS-Iran Masih Membayangi

Nilai Tukar Rupiah

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS atau USD, hari ini, Jumat (17/7/2026), dibuka menguat tipis di level sekitar Rp 17.980–17.983 per USD. Angkanya menguat tipis di, naik 6 poin atau 0,03% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.986.

Rupiah menunjukkan di Rp 17.980 per USD, posisi sementara kurs tengah Bank Indonesia berada di Rp 18.041. Kurs bank besar juga mencatat variasi, dengan BCA di Rp 17.973/17.993, Mandiri di Rp 17.975/18.005, BRI dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.986. Tempat data Bloomberg pada harga Rp 17.975/18.005, BRI harga Rp 17.978/18 di Rp 17.965/17di Rp 17.978/18.011, dan BNI di Rp 17.965/17.995.

Angkanya turun ke 100,72 setelah rilis data inflasi JuniPenguatan rupiah ini mencerminkan sentimen positif dari pelemahan indeks dolar AS yang turun ke 100,72 setelah rilis data inflasi Juni 2026 lebih rendah dari perkiraan, sehingga menekan ekspektasi kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed.

Pernyataan pejabat Fed yang menegaskan sikap hati-hati semakin memperkuat persepsi pasar bahwa kebijakan moneter AS akan lebih longgar. Namun, rupiah tetap dibayangi risiko eksternal, terutama ketegangan geopolitik Timur Tengah antara AS–Iran di Teluk Persia yang memicu kekhawatiran pasokan energi, serta mendorong harga minyak global yang berpotensi menekan rupiah dalam jangka menengah.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Tegaskan Tarif Tak Akan Naik, Pemerintah Fokus Perluasan Basis Pajak

Secara regional, rupiah menjadi salah satu mata uang Asia yang menguat bersama won Korea (+0,16%) dan peso Filipina (+0,04%) , sementara ringgit Malaysia (−0,18%) , baht Thailand (−0,14%) , dolar Taiwan (−0,14%) , serta yuan Tiongkok dan dolar Singapura (−0,04%) melemah terhadap dolar AS. Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah masih mampu mengikuti tren positif regional meski tekanan eksternal cukup besar.

Ke depan, analis menilai penguatan rupiah pada pertengahan Juli ini bisa bersifat sementara. Volatilitas rupiah tetap tinggi, dengan arah pergerakan sangat bergantung pada data ekonomi AS, kebijakan Fed, serta perkembangan konflik Iran–AS. Prospek akhir tahun 2026 diperkirakan mampu menahan tantangan baru jika inflasi AS kembali naik atau ketegangan geopolitik semakin memburuk. Dengan demikian, rupiah saat ini berada dalam fase penguatan moderat , namun tetap rentan terhadap faktor eksternal yang dapat mengubah arah pasar secara cepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *