ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan dinamika yang kontras, dibuka menguat, namun bayang-bayang tekanan eksternal dan domestik masih membatasi ruang penguatannya pada Kamis (29/10/2026). Rupiah dibuka menguat 43 poin atau 0,24 persen ke level Rp18.141 per dolar AS pada pagi hari, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.184. Penguatan ini merupakan respons awal pasar terhadap keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00% pada pertemuan FOMC 28 Oktober waktu AS.
Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga sebenarnya telah diantisipasi oleh pasar, sehingga tidak menimbulkan kejutan besar. Bahkan, indeks dolar AS sempat melemah sekitar 0,2 persen setelah konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh, yang membuka peluang bagi rupiah untuk menguat secara terbatas . Namun, sinyal dari The Fed tetaplah hawkish: keputusan diambil dengan suara 10 berbanding 2, di mana dua pejabat (Lisa Cook dan Beth Hammack) justru mendukung kenaikan 25 basis poin.
The Fed menegaskan bahwa inflasi AS masih tinggi dan diperlukan informasi tambahan untuk menentukan arah kebijakan selanjutnya. Artinya, meskipun suku bunga ditahan untuk saat ini, prospek pengetatan di masa depan masih terbuka, dan ini menjadi beban psikologis bagi mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Baca Juga: Rupiah Kembali Melemah, Investor Asing Keluar
Faktor eksternal yang paling menekan rupiah adalah harga minyak mentah yang masih bertahan di atas US$115 per barel akibat ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah . Sebagai negara net importir minyak, Indonesia merasakan dampak ganda: pertama, lonjakan biaya impor energi yang memperbesar kebutuhan valuta asing; kedua, meningkatnya risiko fiskal karena harga minyak telah jauh melampaui asumsi makro APBN sebesar US$70 per barel.
Selain itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang bertahan di sekitar 5 persen terus menjadi magnet bagi aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, memperkuat dolar AS secara global . Bank Indonesia secara eksplisit menyebut bahwa sentimen risk-off yang memburuk telah mendorong penguatan dolar AS dan memicu arus keluar dana dari pasar emerging markets .
Dari dalam negeri, tekanan datang dari dua arah. Pertama, kebutuhan likuiditas valuta asing korporasi yang meningkat menjelang akhir bulan, terutama untuk pembayaran impor dan kewajiban utang luar negeri . Kedua, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI masih membayangi kepercayaan investor. Wacana ini memicu kekhawatiran akan arus keluar modal asing dari pasar ekuitas domestik, yang pada gilirannya menambah tekanan jual terhadap rupiah.
Di tengah kombinasi tekanan ini, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir di pasar melalui intervensi NDF, DNDF, dan spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder guna menjaga stabilitas nilai tukar . Cadangan devisa Indonesia per akhir September 2026 tercatat sebesar US$146,3 miliar, memberikan bantalan yang memadai bagi bank sentral untuk terus mengawal pergerakan rupiah.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati rilis data inflasi PCE dan PDB kuartal III AS sebagai penentu arah berikutnya . Analis memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp18.100 hingga Rp18.250 per dolar AS pada perdagangan hari ini, dengan kecenderungan stabil hingga menguat terbatas . Namun, sejumlah pengamat menilai rupiah sulit kembali ke bawah Rp18.000 dalam waktu dekat, kecuali The Fed memberikan sinyal pelonggaran yang lebih jelas dan harga minyak dunia turun secara bersamaan.

