Rupiah Bergerak Fluktuatif, Sempat Menguat di Tengah Ketidakpastian Global

Rupiah

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dalam pola yang cukup fluktuatif pada Senin (12/10/2026), namun berhasil mengakhiri sesi dengan penguatan tipis. Data dari pasar spot menunjukkan rupiah dibuka menguat ke level Rp17.894 per dolar AS, naik 5 poin atau 0,03 persen dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya di Rp17.899.

Penguatan ini kemudian berlanjut, dengan data pada pukul 09.12 WIB menunjukkan rupiah berada di level Rp17.885, menguat 0,08 persen . Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dipatok Bank Indonesia pada hari yang sama berada di posisi Rp17.884 per dolar AS .

Pergerakan ini tidak lepas dari dinamika yang terjadi di pasar global. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah pada pembukaan pagi dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu penurunan harga minyak mentah dunia dan pelemahan indeks dolar AS . Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau melemah sekitar 0,12 persen ke posisi 102,13 pada pagi hari.

Penurunan indeks dolar ini memberikan ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih leluasa. Selain itu, harapan bahwa kelangkaan bahan bakar diesel akan mereda setelah Rusia melepaskan pasokan hariannya, sesuai permintaan Presiden AS Donald Trump, turut memberikan sentimen positif.

Baca Juga: BI Dorong Ekosistem Halal Terintegrasi, Bangun Ekosistem Kompetitif

Namun, penguatan rupiah tidak serta-merta berlangsung mulus. Pergerakan mata uang Garuda sepanjang hari masih dibayangi oleh ketidakpastian global yang cukup tinggi. Konflik geopolitik antara Iran dan AS yang belum menunjukkan titik terang menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah.

Sentimen dari dalam negeri juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ibrahim Assuaibi menyoroti perkembangan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga September 2026 yang mencapai Rp319 triliun, setara 1,24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) . Angka ini meningkat dibandingkan posisi Agustus 2026 yang sebesar 0,9 persen.

Di sisi penerimaan, pendapatan negara tumbuh 25,5 persen secara tahunan, sedangkan belanja negara meningkat 19 persen. Kenaikan harga minyak mentah dunia juga menjadi faktor yang perlu dicermati, karena setiap kenaikan US$1 per barel berpotensi menambah beban APBN sekitar Rp6 triliun . Kombinasi antara kondisi fiskal domestik dan ketidakpastian eksternal ini membuat pergerakan rupiah ke depan masih rentan terhadap fluktuasi.

Secara teknikal, posisi rupiah saat ini masih dalam fase konsolidasi di tengah tekanan eksternal yang belum mereda. Pelemahan indeks dolar AS dan penurunan harga minyak memberikan dorongan positif jangka pendek, tetapi faktor risiko seperti konflik geopolitik dan kebijakan moneter The Fed yang masih cenderung hawkish tetap menjadi bayangan.

Pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati rilis data ekonomi AS, terutama inflasi, yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga dan pada akhirnya menentukan arah dolar AS. Dengan demikian, meskipun rupiah berhasil menguat tipis pada awal pekan ini, pergerakan ke depan masih akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global dan stabilitas fundamental domestik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *