ASIAWORLDVIEW – Fenomena anak yang lebih nyaman bercerita kepada Artificial Intelligence (AI) atau chatbot memang sedang menjadi perhatian banyak orangtua akhir-akhir ini. Di satu sisi, teknologi menawarkan ruang yang terasa aman: AI tidak menghakimi, tidak marah, tidak menyela, dan selalu tersedia kapan saja.
Psikolog klinis dan keluarga Pritta Tyas Mangestuti mengingatkan, Rabu (30/9/2026), bahwa kebutuhan anak yang paling dasar bukanlah jawaban instan atau ruang tanpa emosi, melainkan dicintai apa adanya. Rasa aman itu semestinya hadir dari orangtua, bukan dari algoritma.
“Orangtua perlu hadir sebagai tempat yang aman bagi anak untuk bercerita, sehingga anak tidak terbiasa mencurahkan isi hatinya hanya kepada kecerdasan buatan,” ia mengatakan dalam Workshop bersama OpenAI: PandAI (Panduan Praktis AI) untuk Keluarga.
Menurut Pritta, pendiri portal belajar parenting daring Good Enough Parents, jika anak merasa bahwa bercerita kepada orangtua berarti akan dihakimi, dimarahi, atau membuat orang tua kecewa, maka ia akan mencari tempat lain yang terasa lebih netral—dan AI bisa menjadi pelarian yang tampak nyaman, meskipun sebenarnya tidak mampu menggantikan kehangatan relasi manusia.
“Salah satu kunci untuk menjadi pendengar yang aman adalah menahan reaksi spontan. Ketika anak menyampaikan cerita yang mungkin membuat orangtua terkejut atau tidak sesuai harapan, sebaiknya tetap tenang meskipun di dalam hati sedang berkecamuk,” ia menjelaskan.
Baca Juga: AI untuk Pendidikan, Penggunaan ChatGPT dengan Study Mode dan Parental Control
“Jangan mengeluarkan komentar-komentar yang langsung membuat anak merasa dihakimi,” ia menmabahkan.
Respons seperti marah, omelan, atau penghakiman memang manusiawi, tetapi jika sering terjadi, anak akan belajar bahwa bercerita kepada orangtua itu berisiko. Akibatnya, anak menutup diri, memilih diam, atau beralih ke AI yang tidak pernah membentaknya.
Padahal, yang dibutuhkan anak yaitu orangtua yang mau mendengar tanpa menghakimi. Lalu, membimbing dengan kasih sayang. Dalam praktik parenting sehari-hari, ini berarti perlu melatih diri untuk mendengarkan dulu, bukan langsung menasihati. Selain itu, memvalidasi perasaan anak, bukan meremehkan atau membanding-bandingkan, dan bertanya dengan rasa ingin tahu yang tulus, bukan menginterogasi.
Selain membangun rasa aman, Pritta juga menekankan pentingnya orangtua memahami perubahan yang dialami anak ketika memasuki masa praremaja dan remaja. Perlu juga mempelajari gejolak emosi dan fisik yang wajar terjadi pada tahap perkembangan tersebut, sehingga tidak kaget ketika anak tiba-tiba lebih sensitif, menarik diri, atau ingin lebih mandiri.
“Orangtua perlu belajar gejolak emosi apa, gejolak fisik apa yang timbul pada anak-anak seusia dia, atau masa remaja seusia dia,” pungkasnya.

One thought on “Psikolog: Anak Butuh Rasa Aman dari Orangtua, Bukan Curhat ke AI atau Chatbot”