AI untuk Pendidikan, Penggunaan ChatGPT dengan Study Mode dan Parental Control

ASIAWORLDVIEW – Adopsi kecerdasan buatan generatif yang kian masif, OpenAI ternyata mencatat bahwa pengguna ChatGPT dari kalangan remaja cukup banyak. Rata-rata mereka memanfaatkannya untuk belajar, bukan sekadar hiburan atau sekadar mencoba-coba teknologi baru.

Menurut Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy, Southeast Asia, OpenAI pada Rabu (30/9/2026), fenomena ini sebenarnya merupakan perkembangan yang positif. Hal itu karena menunjukkan bahwa AI dapat menjadi alat bantu pendidikan yang mudah diakses, terjangkau, dan tersedia kapan saja.

“Di balik peluang tersebut, muncul pula kebutuhan akan tata kelola yang lebih matang—terutama ketika perangkat AI generatif mulai digunakan oleh anak-anak dan remaja yang masih dalam tahap perkembangan kognitif, sosial, dan emosional. Inilah yang kemudian mendorong OpenAI untuk menghadirkan serangkaian fitur baru yang tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, tetapi juga pada aspek keamanan, kenyamanan, dan kontrol orangtua,” sebutnya dalam Workshop bersama OpenAI: PandAI (Panduan Praktis AI) untuk Keluarga.

Salah satu fitur utama yang kini menjadi perhatian adalah Study Mode, sebuah mode khusus yang dirancang untuk pelajar. Berbeda dengan mode biasa yang cenderung memberikan jawaban langsung, fitur ini membimbing pengguna melalui proses berpikir bertahap—mendorong mereka untuk memahami konsep dan mengajukan pertanyaan lanjutan.

“Fitur ini bahkan menemukan jawaban sendiri dengan pendekatan yang lebih Socratic. Jadi, ChatGPT tidak sekadar menjadi mesin jawaban, tetapi berperan sebagai tutor virtual yang membantu membangun pemahaman mendalam,” ia menambahkan.

Baca Juga: OpenAI Tunda IPO, Fokus Galang Dana

Bagi pelajar, ini berarti mereka bisa belajar dengan ritme masing-masing. Selain itu, bisa mengulang materi yang sulit, dan mendapatkan penjelasan tambahan tanpa tekanan sosial atau keterbatasan waktu yang sering muncul di kelas konvensional.

OpenAI menyadari bahwa tanpa pengawasan, penggunaan AI oleh remaja bisa menjadi pisau bermata dua—bisa membantu belajar, tetapi juga berpotensi membuat mereka terlalu bergantung pada teknologi atau mengakses konten yang belum sesuai. Karena itu, OpenAI menghadirkan fitur kontrol orang tua yang memungkinkan orang tua untuk mengawasi dan mengatur penggunaan ChatGPT oleh remaja.

“Orangtua dapat menautkan akun anak dengan akun mereka, mengatur batas waktu penggunaan, menonaktifkan fitur tertentu, serta memantau aktivitas yang dilakukan. Selain itu, ada juga fitur reminder yang secara otomatis mengingatkan pengguna—terutama remaja—jika mereka telah menggunakan ChatGPT terlalu lama,” jelasnya.

Pengingat ini bukan sekadar notifikasi biasa, melainkan dirancang untuk mendorong jeda, refleksi, dan keseimbangan antara belajar dengan layar dan aktivitas offline. Bagi orangtua, kehadiran reminder ini memberikan ketenangan tambahan: mereka tahu bahwa anak mereka tidak akan terjebak dalam sesi panjang tanpa henti.

Di ChatGPT juga terdapat mekanisme built-in yang membantu menjaga kesehatan digital. Fitur ini juga menjadi semacam “pagar pembatas” yang halus. Fitur ini mendidik remaja untuk mengelola waktu mereka sendiri—sebuah keterampilan yang semakin penting di era serba terhubung seperti sekarang.

“OpenAI tampaknya ingin memposisikan ChatGPT bukan hanya sebagai produk teknologi yang canggih, tetapi juga sebagai platform yang bertanggung jawab terhadap penggunanya, terutama generasi muda. Pengembangan AI generatif tidak lagi hanya soal performa model atau kecepatan respons, tetapi juga soal desain etis, keamanan, dan dampak social,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *