PMOS, Nama Baru PCOS yang Membawa Pesan untuk Kesehatan Perempuan Muda

Ilustrasi kesehatan intim perempuan.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Istilah polycystic ovary syndrome (PCOS) selama puluhan tahun menjadi label yang akrab di telinga masyarakat, terutama perempuan yang hidup dengan kondisi tersebut. Namun belakangan, dunia medis mulai bergeser ke terminologi yang dinilai lebih tepat dan menyeluruh: polyendocrine metabolic ovarian syndrome (PMOS). Pergeseran nama ini bukan sekadar urusan akademis atau kebiasaan baru di ruang praktik dokter..

Selama ini, kata “polycystic” dalam PCOS sering menimbulkan kesalahpahaman. Banyak orang membayangkan adanya kista pada ovarium, padahal yang sebenarnya terjadi adalah gangguan hormonal yang memengaruhi proses ovulasi. Selain itu, label lama tersebut cenderung memusatkan perhatian pada ovarium semata, seolah-olah masalahnya hanya seputar organ reproduksi.

Bagi banyak perempuan muda, gejala awal PMOS sering kali terabaikan atau dianggap sekadar siklus menstruasi yang tidak teratur. Padahal, penanganan medis sejak dini dapat membantu mengelola gejala sekaligus menekan risiko kesehatan jangka panjang, termasuk diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, serta penurunan tingkat kesuburan.

Dr. Wei-Wei Wee-Stekly, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi di Gleneagles Hospital, Singapura, menyebut kondisi ini sebagai “epidemi sunyi”. Ia menjelaskan, kondisi ini secara perlahan mengancam kesehatan jangka panjang serta kualitas hidup perempuan. Menurutnya, banyak perempuan muda di Indonesia hidup dengan kondisi ini selama bertahun-tahun tanpa diagnosis.

“Pergeseran fokus dari PCOS menjadi PMOS sangat bermakna; menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan sekadar masalah pada indung telur, melainkan sebuah gangguan metabolik dan endokrin yang kompleks,” ujarnya.

Baca Juga: Mengawal Kesehatan Perempuan dengan Inovasi AI yang Berkeadilan

Di Indonesia, PMOS menjadi salah satu gangguan endokrin yang paling umum dialami oleh perempuan usia subur, dan kondisinya kian menjadi prioritas kesehatan masyarakat. Diperkirakan kondisi ini memengaruhi sekitar 4% hingga 10% perempuan usia subur di Tanah Air, dengan berbagai studi klinis mencatat angka kejadian mencapai 6,5% hingga 9,1% pada kelompok remaja dan perempuan dewasa muda.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa PMOS bukanlah kondisi langka; ia hadir di tengah masyarakat, mungkin di lingkungan terdekat kita, tetapi sering kali tidak terdeteksi. Bagi perempuan muda yang mengalami gejala seperti jerawat membandel, pertumbuhan rambut berlebih, kenaikan berat badan yang sulit dijelaskan, atau siklus haid yang tidak teratur, informasi ini menjadi pengingat bahwa pemeriksaan medis sejak dini dapat membuat perbedaan besar.

Ada pesan penting yang ingin disampaikan, terutama kepada para perempuan muda: kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan ovarium dan kesuburan, tetapi juga pada kesehatan hormonal dan metabolik secara menyeluruh. Artinya, PMOS perlu diwaspadai jauh sebelum seorang perempuan mulai merencanakan kehamilan. Bagi banyak orang, perubahan istilah ini mungkin terdengar teknis, tetapi di baliknya ada pergeseran cara pandang yang dapat memengaruhi kualitas hidup jutaan perempuan

Ia menegaskan bahwa deteksi dini menjadi hal yang mutlak, tidak hanya untuk meningkatkan peluang kesuburan di masa depan, tetapi juga untuk menekan berbagai risiko metabolik dalam jangka panjang.

“Kesehatan reproduksi tidak berdiri sendiri, tapi terikat erat dengan kesehatan metabolik dan hormonal secara keseluruhan,” ia menambahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *