DNA Sejati Ramen Berasal dari Kuahnya, Asli dari Jepang

Ramen

ASIAWORLDVIEW – Ramen sejati bertakhta di dalam mangkuk, dan takhtanya adalah kuah. Bukan sekadar media basah yang membasahi mie, kuah adalah denyut nadi, jiwa, dan DNA yang menentukan apakah semangkuk ramen hanya akan menjadi makanan biasa atau sebuah pengalaman spiritual yang membekas.

Di tanah asalnya, Jepang, filosofi ini diwujudkan dalam kesabaran tingkat dewa melalui metode tori paitan, di mana tulang ayam dan jaringan kolagen direndam serta dimasak dengan api kecil selama delapan jam atau lebih, hingga air berubah menjadi eliksir kental berwarna putih susu yang kaya akan rasa umami dan tekstur creamy yang memeluk lidah.

“Proses panjang ini mengajarkan kita bahwa kelezatan sejati tidak bisa dipaksakan; ia lahir dari dedikasi, waktu, dan perhatian terhadap detail yang menjadi ciri khas Jepang,” sebut Brand Marketing Manager Haraku Ramen I Dewa Gede Ari menawab pertanyaan media, Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Bara dari Haraku Ramen, Sensasi Berlapis yang Menggigit dengan Kuah Spicy dan Creamy

Ketika ramen melintasi lautan dan mendarat di Indonesia. Kemudian bertransformasi dengan cerdas menyambut lidah lokal yang akrab dengan keberanian rasa. Misalnya, cabai rawit memberikan sengatan pedas yang membangkitkan gairah, atau rempah-rempah lokal memperkuat fondasi gurihnya.

“Saat ramen melintasi lautan dan tiba di Indonesia, ia tidak sekadar hadir sebagai hidangan otentik Jepang, melainkan bertransformasi dengan cerdas untuk menyambut lidah lokal yang gemar akan keberanian rasa,” ia menambahkan.

Kuah gurih yang menjadi DNA ramen berpadu dengan sentuhan cabai rawit yang memberi sengatan pedas membangkitkan gairah. Sementara rempah-rempah khas Nusantara memperkuat fondasi gurihnya. Hasilnya adalah ramen yang tetap mempertahankan esensi Jepang, kuah yang dimasak lama hingga kaya kolagen. Namun sekaligus menghadirkan karakter baru yang lebih berani, hangat, dan sesuai dengan selera Indonesia. Inilah perpaduan budaya kuliner yang menjadikan ramen bukan sekadar makanan, melainkan pengalaman lintas rasa dan tradisi.

“Intinya kuah ramen yang menjadi pusat gravitasi, yang merangkai setiap helai mie yang kenyal, setiap lembar chashu yang empuk, setiap butir telur yang lumer, menjadi sebuah simfoni harmonis yang hangat,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *