ASIAWORLDVIEW – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan optimistis Indonesia dapat mencapai target pertumbuhan ekspor tahunan sebesar 5,5–6,5 persen. Optimisme itu didukung kinerja ekspor yang tumbuh sekitar 4,7 persen selama Januari hingga Agustus 2026. Pada periode tersebut, nilai ekspor Indonesia tercatat mencapai US$193,64 miliar.
Ia menambahkan, sempat terjadi defisit perdagangan pada Mei dan Juni yang dikaitkan dengan dampak lanjutan lonjakan harga minyak pada Maret. Pemerintah tetap menilai momentum ekspor masih cukup kuat untuk mengejar target hingga akhir tahun.
“Sektor industri pengolahan menjadi penopang utama ekspor nasional. Nilai ekspor manufaktur mencapai US$159,55 miliar atau sekitar 82,4 persen dari total ekspor selama Januari–Agustus. Besarnya kontribusi ini menunjukkan bahwa peningkatan ekspor Indonesia tidak hanya bergantung pada komoditas mentah, tetapi juga pada kemampuan industri dalam menghasilkan produk bernilai tambah dan memenuhi permintaan pasar luar negeri,” ia mengatakan.
Baca Juga: Mendag Budi Santoso: Pangan Adalah Hak Hidup, Bukan Instrumen Geopolitik
Untuk memperkuat kinerja tersebut, Kementerian Perdagangan mengandalkan 46 kantor perwakilan. Terdiri atas atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) di 33 negara.
“Perwakilan itu sebagai agen penjualan bagi eksportir Indonesia, dengan tugas utama membantu menemukan pembeli dan membuka akses pasar,” ia menambahkan.
Strategi pemerintah mencakup tiga fokus: menjaga pasar domestik, memperluas pasar ekspor, serta meningkatkan kesiapan produk lokal agar memenuhi standar global. Di dalam negeri, program bersama asosiasi ritel dan gerakan belanja produk nasional disebut mendorong penyerapan produk lokal senilai Rp259,3 triliun pada Januari–Oktober 2026.
Sebanyak 6.383 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga mendapat pendampingan untuk menjalin kemitraan dengan peritel modern. Upaya ini dimaksudkan untuk memperkuat penjualan di pasar domestik sekaligus membantu UMKM membangun kapasitas usaha sebelum bersaing di tingkat internasional.
Pada sisi perluasan pasar luar negeri, Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 dilaporkan menghasilkan potensi transaksi sebesar US$22,94 miliar. Potensi transaksi dari UMKM mencapai US$510,79 juta.
Sementara itu, program “From Local to Global” menghubungkan pelaku usaha dengan calon pembeli melalui kegiatan penjodohan bisnis atau business matching yang menghasilkan potensi transaksi US$361,55 juta. Pemerintah juga mengembangkan 787 desa ekspor dan 121 sentra industri kecil dan menengah, serta mengintegrasikan 1.203 UMKM dengan jaringan ritel modern. Kolaborasi dengan perguruan tinggi turut dilaporkan menghasilkan potensi transaksi US$24,57 juta di TEI.
