MRT Jakarta Targetkan Jalur Timur-Barat Beroperasi 2031

MRT Jakarta

ASIAWORLDVIEW – Proyek pembangunan lintas Timur-Barat Mass Rapid Transportation atau MRT Jakarta resmi memasuki tahap krusial, yaitu proses lelang konstruksi. PT MRT Jakarta (Perseroda) saat ini tengah membuka proses tender untuk sejumlah paket pekerjaan utama dari proyek strategis yang akan menghubungkan Medan Satria di Bekasi hingga Tomang di Jakarta Barat.

Langkah ini menandai dimulainya realisasi jalur baru yang sangat dinantikan, dan proses lelang ini berlangsung secara transparan dan kompetitif untuk memilih kontraktor terbaik yang akan menggarap proyek dengan kualitas tinggi dan efisiensi biaya.

“Saat ini kita sedang membangun jalur Timur-Barat, Medan Satria-Tomang yang sekarang sedang dilakukan bidding untuk membangun beberapa paket pekerjaan,” kata Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta, Farchad Mahfud dalam peresmian Stasiun MRT Blok A Visa Jakarta.

Proses lelang saat ini berfokus pada beberapa paket pekerjaan konstruksi. Salah satu paket yang menjadi prioritas adalah pembangunan segmen bawah tanah (underground section). Jalur bawah tanah ini akan membentang dari kawasan perempatan Bank Indonesia di Thamrin-Kebon Sirih menuju area Kwitang-Senen.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Secara lebih spesifik, PT MRT Jakarta telah mengumumkan tender untuk Paket Kontrak (CP) 104, yang mencakup pembangunan terowongan kembar (twin bored tunnels) dan tiga stasiun bawah tanah: Stasiun Thamrin, Stasiun Kebon Sirih, dan Stasiun Kwitang. Proses pengadaan untuk paket ini sendiri telah berlangsung pada awal tahun 2026.

MRT Jakarta menargetkan jalur Timur-Barat fase pertama ini dapat mulai beroperasi pada tahun 2031. Total panjang jalur yang akan dibangun pada fase awal ini adalah sekitar 24,5 kilometer. Kehadiran jalur baru ini diproyeksikan akan melayani sekitar 284.000 penumpang per hari.

“Salah satu paket pekerjaan yang disiapkan berupa pembangunan bagian bawah tanah (underground section) dari kawasan perempatan Bank Indonesia, Thamrin-Kebon Sirih, menuju area yang disebut Kwitang-Senen,” tambahnya.

Proyek megaproyek ini didukung oleh pendanaan dari lembaga internasional. Nilai investasi untuk jalur ini diperkirakan mencapai Rp 50 triliun (sekitar US$3,1 miliar), dengan pembiayaan berasal dari Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Asian Development Bank (ADB). Selain itu, MRT Jakarta juga menerapkan strategi pembiayaan kreatif (creative financing) untuk mengembangkan kawasan di sepanjang jalur, sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Jalur Timur-Barat ini dirancang untuk menjadi koridor transportasi publik baru yang vital. Hal itu karena akan melintasi berbagai kawasan strategis, mulai dari pusat bisnis, kawasan pemukiman padat, hingga titik-titik transit utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *