ASIAWORLDVIEW – Suasana libur panjang perlahan mulai ditinggalkan. Tas dan seragam mulai disiapkan, perlengkapan sekolah dibeli. Namun di sudut lain rumah, mungkin ada anak yang mulai terlihat murung, malas bangun pagi, atau bahkan mengeluh sakit perut tanpa sebab yang jelas.
Fenomena ini dikenal sebagai holiday blue, sebuah kondisi psikologis yang lumrah terjadi pada anak-anak ketika masa kebebasan liburan berakhir dan rutinitas sekolah kembali menghampiri. Selama beberapa pekan, mereka terbiasa dengan ritme santai: bangun siang, bermain sepuasnya, menonton televisi, dan tidak ada beban tugas.
Tiba-tiba, semua itu harus digantikan dengan aturan ketat, bangun pagi, seragam rapi, dan tumpukan pelajaran. Perubahan drastis ini kerap memicu perasaan cemas, sedih, hingga resistensi yang membuat mereka ogah-ogahan menyambut tahun ajaran baru, mengutip Psychology Today, Jumat (24/7/2026).
Holiday blue tidak selalu muncul dalam bentuk tangisan atau penolakan verbal. Sering kali, datang dalam perubahan perilaku yang lebih halus. Anak mungkin menjadi lebih mudah tersinggung, kehilangan selera makan, atau bahkan mengeluh pusing dan lemas—yang sebenarnya adalah manifestasi fisik dari kecemasan psikologis.
Baca Juga: Mempersiapkan Mental Anak Kembali ke Sekolah
Beberapa anak menjadi sangat lengket (clingy) dan sulit ditinggal oleh orang tua. Sementara yang lain justru menarik diri dan malas bercerita tentang sekolah. Penting bagi orang tua untuk memahami bahwa respons ini adalah reaksi alami terhadap transisi, bukan bentuk pembangkangan. Anak-anak, terutama di usia dini, belum sepenuhnya matang dalam mengelola perasaan transisi. Mereka membutuhkan bimbingan dan empati, bukan hukuman atau paksaan.
Salah satu kesalahan terbesar orang tua adalah mencoba mengembalikan rutinitas “sekolah” secara instan di hari H. Ini seperti memaksa tubuh yang terbiasa berjalan santai untuk tiba-tiba berlari maraton. Idealnya, transisi dilakukan secara bertahap, idealnya 5 hingga 7 hari sebelum hari pertama sekolah. Mulailah dengan menggeser jam tidur malam lebih awal secara perlahan, misalnya 30 menit setiap malam, sehingga anak tidak mengalami syok saat harus terbangun di pagi hari.
Bersamaan dengan itu, kurangi jam bermain gadget di malam hari dan ganti dengan aktivitas yang lebih menenangkan, seperti membaca buku cerita bersama atau mendongeng. Dengan pendekatan bertahap ini, tubuh dan pikiran anak memiliki waktu untuk beradaptasi, sehingga saat hari pertama tiba, mereka tidak merasa “dipaksa” melainkan “siap”.
Liburan sekolah sering kali identik dengan kebersamaan, dan transisi ini juga bisa menjadi momen kebersamaan yang menyenangkan. Libatkan anak dalam menyiapkan perlengkapan sekolah. Ajak mereka memilih kotak pensil, tas baru, atau buku pelajaran yang akan dipakai. Ketika anak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, mereka akan merasa memiliki kendali dan tanggung jawab, yang secara psikologis meningkatkan rasa antusiasme.
Selain itu, jadikan acara persiapan ini sebagai waktu untuk bercerita. Tanyakan siapa sajakah teman yang ingin mereka temui kembali di sekolah, atau kegiatan ekstrakurikuler apa yang paling mereka tunggu, apakah itu olahraga, paduan suara, atau sekadar bermain di lapangan.
