ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif pada Senin (12/10/2026). Indeks dibuka di zona hijau dengan penguatan 15,56 poin atau 0,26 persen ke posisi 6.109,32. Bahkan, pada menit-menit awal perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.128,72, memberikan harapan bahwa awal pekan akan berjalan positif.
Namun, momentum positif tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual yang masif muncul dan membalikkan arah indeks ke zona merah secara tajam. Menjelang pukul 10.42 WIB, IHSG telah merosot ke level 6.032,32, turun 61,44 poin atau 1,01 persen dari penutupan sebelumnya di 6.093,76. Level terendah harian tercatat di 6.029,80, mencerminkan betapa cepatnya sentimen berubah dalam satu jam pertama perdagangan .
Dari sisi breadth pasar, dominasi saham yang melemah terlihat sangat jelas setelah pembalikan arah terjadi. Data pada pukul 09.48 WIB mencatat sebanyak 369 saham mengalami penurunan, sementara hanya 269 saham yang berhasil menguat, dan 325 saham stagnan. Volume perdagangan cukup tinggi dengan 10,57 miliar saham ditransaksikan, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp2,392 triliun dan frekuensi 441.400 kali.
Sektor infrastruktur menjadi pemberat terbesar dengan penurunan mencapai 4,2 persen, disusul sektor energi yang anjlok 2,2 persen, dan sektor material dasar yang melemah 1,3 persen . Saham-saham yang menjadi penekan utama IHSG antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) . Di sisi lain, saham-saham yang berusaha menopang indeks dari koreksi lebih dalam meliputi PT Astra International Tbk (ASII), PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Baca Juga: Setelah Rebound Singkat di Sesi Pagi, IHSG Kembali ke Zona Merah
Faktor utama yang menekan IHSG pada hari ini adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa dirinya mempertimbangkan untuk membantu Arab Saudi menyerang kelompok Houthi di Yaman, setelah serangan mematikan terjadi di Bandara Riyadh.
Kontrak berjangka minyak Brent terakhir diperdagangkan di atas USD104 per barel, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di level tertinggi sejak 2002 . Kombinasi harga energi yang tinggi dan biaya pinjaman yang mahal menciptakan lingkungan yang tidak kondusif bagi aset berisiko, termasuk saham di pasar berkembang seperti Indonesia. Selain itu, pasar juga mencermati pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok, Thailand, pada 12-18 Oktober 2026, yang berlangsung di tengah situasi tingginya biaya energi, utang publik yang membengkak, dan pasar obligasi yang tidak stabil .
Dari sisi domestik, sentimen pasar relatif terbatas, sehingga arah IHSG lebih sensitif terhadap perkembangan eksternal. Meskipun demikian, terdapat beberapa katalis positif yang mungkin membatasi pelemahan lebih lanjut. Data penjualan ritel nasional tercatat tumbuh 1,3 persen secara tahunan pada Agustus 2026, yang memberikan sinyal bahwa konsumsi rumah tangga masih terjaga . Selain itu, BEI bersama KSEI melakukan gebrakan baru dengan memperluas transparansi data kepemilikan saham asing dan domestik, sebuah langkah reformasi yang dipandang positif untuk memperkuat keterbukaan data bagi investor.
Volume perdagangan cukup tinggi dengan 10,57 miliar saham ditransaksikan, menghasilkan nilai transaksi sebesar Rp2,392 triliun dan frekuensi 441.400 kali . Hampir seluruh indeks sektoral mengalami koreksi. Sektor infrastruktur menjadi pemberat terbesar dengan penurunan mencapai 4,2 persen, disusul sektor energi yang anjlok 2,2 persen, dan sektor material dasar yang melemah 1,3 persen . Saham-saham yang menjadi penekan utama IHSG antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) . Di sisi lain, saham-saham yang berusaha menopang indeks dari koreksi lebih dalam meliputi PT Astra International Tbk (ASII), PT Multipolar Technology Tbk (MLPT), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), PT Bank Mandiri (BMRI), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).

