Setelah Rebound Singkat di Sesi Pagi, IHSG Kembali ke Zona Merah

IHSG menguat atau berada di zona hijau.(freepik)

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Indonesia menunjukkan pergerakan yang sangat fluktuatif pada sesi pagi di Jakarta, Jumat (9/10/2026). Indeks dibuka di level 6.039,01 poin, naik tipis 7,73 poin atau 0,13% dibandingkan harga penutupan sesi sebelumnya di 6.031,28 poin.

Setelah pembukaan, indeks sempat melanjutkan tren kenaikan dan menyentuh kisaran 6.045 hingga 6.049,22 poin. Namun, momentum rebound ini tidak berlangsung lama. Tak lama setelah pembukaan, IHSG dengan cepat melepaskan kenaikan tersebut dan berbalik ke zona merah, dengan indeks sempat merosot hingga 5.995,82 poin, nyaris menembus ambang psikologis kunci 6.000 poin. Pada pukul 09.28, IHSG berada di level 6.022,43 poin, turun 8,85 poin dari penutupan sebelumnya, atau turun sekitar 0,15%.

Indeks berada di level 6.016,49 poin, dengan penurunan melebar menjadi 0,25%. Dari segi luas pasar, tekanan jual jelas mendominasi. Pada awal perdagangan, terdapat 224 saham yang mencatat kenaikan, namun aksi jual yang terjadi kemudian membuat jumlah saham yang naik menyusut menjadi antara 193 hingga 222.

Sementara saham yang turun mencapai 351 hingga 398. Aktivitas perdagangan tetap aktif; volume perdagangan tak lama setelah pembukaan telah mencapai 850 juta saham, dengan nilai transaksi sekitar 1,9 triliun rupiah, sedangkan kapitalisasi pasar tetap berada di level sekitar 10.581 triliun rupiah. Kinerja sektor-sektor menunjukkan perbedaan yang signifikan: pada sesi pagi, sektor konsumen non-siklikal, keuangan, properti, bahan baku, dan industri sempat menguat sebentar, namun sektor energi, infrastruktur, teknologi, dan kesehatan terus berada di bawah tekanan. Perbedaan kinerja antar-sektor ini mencerminkan kurangnya konsensus arah yang jelas di dalam pasar, di mana dana bergerak cepat berpindah-pindah antar-sektor.

Baca Juga: Pasar Karbon Indonesia Mulai Menyasar Desa: Dari Korporasi ke Petani dan Nelayan

Kinerja IHSG yang melemah pada hari itu bukanlah kejadian yang terisolasi, melainkan kelanjutan dari penurunan tajam pada sesi perdagangan sebelumnya. Pada 8 Oktober (Kamis), IHSG ditutup anjlok 1,88% di level 6.031,28 poin. Meskipun sempat menyentuh level tertinggi 6.179,09 poin selama sesi perdagangan, IHSG kemudian mengalami aksi jual besar-besaran dan akhirnya ditutup mendekati level terendah hari itu. Pemicu utama penurunan hari itu adalah rilis risalah rapat FOMC Federal Reserve bulan September.

Dari sisi lingkungan eksternal, ketegangan geopolitik menjadi sumber tekanan tambahan. Ada laporan yang menyebutkan bahwa pemerintah AS telah meminta Pentagon untuk menyusun skenario serangan militer terhadap Iran, sementara pihak Iran meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan menegaskan kembali sikapnya untuk mungkin menutup selat tersebut. Akibatnya, harga minyak mentah Brent sempat melonjak 3,87% menjadi 104,08 dolar AS per barel, sementara minyak mentah WTI naik ke level sekitar 91,18 dolar AS. Lonjakan harga energi secara langsung memperparah kekhawatiran pasar terhadap prospek inflasi, yang pada gilirannya memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap berada pada level tinggi. Selain itu, penutupan sementara fasilitas produksi di Teluk Meksiko akibat ancaman badai semakin memperparah ketegangan di sisi pasokan.

Dari sisi arus dana, tekanan penarikan modal asing masih berlanjut. Pada 8 Oktober, investor asing mencatat penjualan bersih sekitar 847 juta hingga 867 juta rupiah di pasar saham Indonesia. Sejak awal tahun, skala penjualan bersih kumulatif modal asing di pasar saham Indonesia telah mencapai sekitar 85,03 triliun rupiah. Tren arus modal keluar yang berkelanjutan ini memberikan tekanan signifikan terhadap Indeks LQ45 yang didominasi saham-saham blue chip, serta membuat rebound IHSG kurang mendapat dukungan dari dana tambahan.

Dari sudut pandang analisis teknis, sejumlah lembaga telah mengeluarkan peringatan mengenai kerentanan IHSG bahkan sebelum pembukaan pasar pada hari itu. BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa kisaran 6.000 hingga 6.019 poin merupakan zona support kunci bagi IHSG.

Sementara indikator stochastic membentuk dead cross, sehingga prospek jangka pendek cenderung bearish. Kiwoom Sekuritas menetapkan level support di 5.979 poin; jika level ini ditembus, support berikutnya berada di kisaran 5.898 hingga 5.887 poin, sedangkan level resistance berada di kisaran 6.095 hingga 6.120 poin.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *