IHSG Berbalik Anjlok Usai Dibuka Menguat, Sektor Infrastruktur Jadi Pemberat Utama

Ilustrasi pergerakan IHSG.(Unidata)

ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menorehkan drama volatilitas yang tajam, dibuka menguat, namun berbalik terpuruk ke zona merah dalam hitungan menit, Kamis (29/10/2026). Kondisi ini mencerminkan kerapuhan sentimen pasar yang belum sepenuhnya pulih meski ada katalis positif dari keputusan suku bunga The Fed.

IHSG dibuka menguat 22,89 poin atau 0,43% ke level 5.305,20 pada pukul 09.00 WIB, bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian di 5.320,90. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Hanya beberapa menit setelah pembukaan, tekanan jual mulai mendominasi dan membawa indeks turun tajam.

Pada pukul 09.21 WIB, IHSG tercatat melemah 56,66 poin atau 1,07% ke level 5.225,65. Tekanan berlanjut hingga pukul 09.59 WIB, ketika indeks terpuruk 111,27 poin atau 2,11% ke level 5.171,04, nyaris menyentuh titik terendah harian di 5.168,38. Bahkan, pada pukul 10.29 WIB, IHSG sempat menyentuh level terendah di 5.157,45, turun 2,17% dari penutupan sebelumnya.

Baca Juga: Bank Indonesia Jamin Fluktuasi Rupiah Masih Terkendali Meski Pasar Diguncang Isu MSCI

Pelemahan IHSG pagi ini didorong oleh aksi jual yang hampir merata di seluruh sektor, dengan sektor infrastruktur menjadi pemberat terdalam. Pada pukul 09.59 WIB, sektor infrastruktur anjlok 4,6%, diikuti sektor material dasar yang turun 1,9% dan sektor konsumer kritikal yang melemah 1,6% . Pada pukul 10.29 WIB, seluruh sektor saham tercatat melemah, dengan infrastruktur turun 3,55%, industri tertekan 3,12%, energi ambles 2,32%, dan siklikal terkoreksi 2,31%.

Saham-saham yang menjadi pemberat utama IHSG antara lain BBCA, ASII, BBRI, BREN, dan SMMA. Sementara saham-saham penekan koreksi meliputi TPIA, DSSA, TMAS, UNTR, dan BSDE . Di jajaran LQ45, ISAT menjadi top loser dengan penurunan 5,1%, disusul CUAN yang turun 3,24% dan ASII yang melemah 2,2% .

Sentimen utama yang seharusnya menjadi katalis positif adalah keputusan The Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00% pada pertemuan Oktober 2026. Keputusan ini diambil dengan suara 10–2, di mana dua pejabat, Lisa Cook dan Beth Hammack, mendukung kenaikan 25 basis poin . The Fed menyebut inflasi masih tinggi dan membuka peluang penyesuaian lanjutan.

Ketua The Fed Kevin Warsh menolak memberi sinyal arah kebijakan berikutnya. Meskipun keputusan ini menghilangkan ketidakpastian jangka pendek, pasar ternyata tidak serta-merta merespons positif. Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak sideways pada kisaran 5.150–5.350, mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar yang masih mencermati rilis data inflasi PCE Amerika serta perkembangan geopolitik. Selain itu, lonjakan imbal hasil SBN dan depresiasi rupiah yang masih berlanjut menjadi beban tersendiri bagi pasar saham domestik.

Prospek dan Rekomendasi di Tengah Tekanan

Meskipun IHSG terpuruk, sejumlah analis masih melihat peluang rebound terbatas selama indeks mampu bertahan di atas area support kritis. BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound selama bertahan di atas 5.182–5.118, meskipun tren masih bearish karena indeks berada di bawah MA20 (5.731) dan MA200 (6.899) . MNC Sekuritas memperkirakan koreksi berpotensi menguji area 5.116–5.180 sebelum kembali membuka peluang penguatan menuju 5.456–5.564. Dari sisi katalis domestik, investor mencermati rilis laporan keuangan kuartal III 2026 dari bank-bank besar seperti BRIS, BBRI, BBTN, dan BDMN, serta rencana BEI mengecualikan saham dengan High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *