ASIAWORLDVIEW – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas pada Rabu (29/7/2026) setelah pasukan Amerika Serikat dan Arab Saudi melakukan serangan bersama terhadap kelompok milisi yang didukung Iran di Irak. Langkah ini memicu reaksi berantai yang mengguncang pasar energi dan keuangan global: harga minyak mentah melonjak lebih dari 5%, sementara aset berisiko seperti saham dan Bitcoin kembali tertekan oleh sentimen risk-off.
Harga minyak mentah berjangka melonjak ke atas USD82 per barel, mencatat kenaikan lebih dari 5% dalam satu hari. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran bahwa konflik yang meluas dapat mengganggu pasokan minyak dari kawasan Teluk, terutama mengingat Selat Hormuz, yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia, kini menjadi titik rawan yang lebih berbahaya. Penolakan Iran terhadap proposal Oman untuk berbagi kendali 50-50 atas Selat Hormuz semakin memperburuk kekhawatiran pasar.
Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa serangan presisi di Irak timur tersebut menargetkan gudang senjata dan fasilitas logistik milisi yang didukung oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Ini adalah pertama kalinya CENTCOM secara publik mengumumkan operasi gabungan dengan Arab Saudi, menandakan peningkatan koordinasi militer antara kedua negara di tengah meningkatnya ancaman dari kelompok proksi Iran.
Baca Juga: Gencatan Senjata AS–Iran Dorong Koreksi Harga Energi, Minyak Global Mulai Turun
Serangan ini merupakan pembalasan atas lebih dari 30 serangan drone yang dilancarkan oleh milisi PMF (Pasukan Mobilisasi Populer) Irak—yang diarahkan oleh IRGC—terhadap pasukan AS dan infrastruktur energi Saudi dalam 72 jam terakhir. Rentetan serangan ini terjadi di tengah jeda serangan langsung yang sebelumnya diberlakukan untuk memberi ruang bagi perundingan diplomatik guna menyelesaikan konflik AS-Iran dan krisis di Selat Hormuz.
Meskipun Iran membantah memiliki kaitan dengan drone yang menyerang fasilitas minyak Saudi, IRGC dengan cepat merespons serangan gabungan tersebut dengan meluncurkan serangan rudal balistik terhadap pasukan AS di Timur Tengah. CENTCOM mengklaim bahwa semua rudal Iran berhasil dicegat.
Di pasar keuangan, serangan rudal Iran segera mengubah arah sentimen. Futures saham AS yang sebelumnya mencatat penguatan akibat optimisme terhadap penurunan suku bunga The Fed, dengan cepat menghapus keuntungan mereka. Investor kembali beralih ke aset aman seperti obligasi pemerintah dan emas.
Lonjakan harga minyak ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, kenaikan harga minyak memperburuk prospek inflasi global, yang dapat memaksa bank sentral, terutama Federal Reserve, untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Hal ini menjadi kabar buruk bagi pasar saham dan obligasi. Di sisi lain, bagi negara-negara pengekspor minyak, lonjakan ini dapat menjadi berkah yang meningkatkan pendapatan negara.
Eskalasi ini merupakan ancaman ganda: harga minyak yang lebih tinggi akan membebani defisit transaksi berjalan dan memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar rupiah yang sudah terdepresiasi. Situasi ini akan menjadi pertimbangan penting bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah badai geopolitik yang terus bergulir.
