ASIAWORLDVIEW – Kulit bayi merupakan lapisan epitel yang jauh lebih tipis, lebih permeabel, dan memiliki fungsi barier yang belum matang sempurna jika dibandingkan dengan kulit orang dewasa. Kondisi inilah yang membuat bayi sangat rentan terhadap gangguan dermatologis, terutama pada area yang tertutup popok.
“Pemilihan popok bukanlah keputusan sepele, melainkan intervensi preventif klinis yang krusial. Menurutnya, parameter seperti bahan dasar popok yang bersifat hipoalergenik, kemampuan daya serap superabsorben yang mencegah kontak langsung antara urin dengan epidermis, serta sistem sirkulasi udara (breathability) yang memungkinkan pertukaran gas dan uap air dari permukaan kulit merupakan tiga pilar utama yang harus dipertimbangkan,” kata dr. Damar Prasetya Ajie Putra, M.Sc., Sp.A, dokter Spesialis Anak dalam Festival Gerakan Anti Ruam Baby Happy 2026, Sabtu (18/7/2026).
Paparan urin yang mengandung urease dan feses dengan enzim proteolitik dalam waktu yang berkepanjangan akan menggeser pH alami kulit menjadi lebih basa. Perubahan pH ini secara langsung mengganggu fungsi stratum corneum sebagai pelindung fisik dan kimia, sehingga memicu respons inflamasi yang kita kenal sebagai diaper dermatitis atau ruam popok.
“Membiarkan popok yang sama menempel terlalu lama bukan hanya meningkatkan risiko iritasi permukaan, tetapi juga membuka celah bagi terjadinya komplikasi yang lebih serius, seperti infeksi bakteri superfisial yang memerlukan terapi farmakologis tambahan. Oleh karena itu, kebiasaan memeriksa popok setiap beberapa jam dan segera menggantinya begitu terasa basah merupakan langkah non-negatif yang memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan dermatologis jangka panjang si kecil,” ia menambahkan.
Baca Juga: JHL Collection Gandeng Tities Sapoetra, Merayakan Kemerdekaan Lewat Narasi Fashion
Selain aspek teknis popok, dr. Damar juga menekankan pentingnya protokol kebersihan yang menyeluruh sebagai bagian dari manajemen perawatan kulit bayi yang holistik. Membersihkan area genital dan gluteal setiap kali mengganti popok harus dilakukan dengan gerakan lembut, menghindari gesekan berlebih yang dapat mengakibatkan abrasi mikro pada kulit, menggunakan air hangat atau tisu basah bebas alkohol dan pewangi.
Langkah selanjutnya yang kritis dan sering terlewat adalah memastikan kulit dalam kondisi benar-benar kering sebelum mengenakan popok baru, karena kelembaban residu akan terperangkap dan mempercepat proses iritasi. Ia merekomendasikan penggunaan pelembab atau barrier cream yang mengandung oksida seng untuk memberikan lapisan pelindung tambahan bagi kulit yang sensitif. Rutinitas sanitasi ini, menurutnya, bukan sekadar ritual fisik untuk mengejar kenyamanan, melainkan wujud nyata dari upaya preventif untuk mempertahankan integritas barier kulit serta menjaga keseimbangan mikrobioma kulit bayi.
Popok dengan kualitas optimal akan secara aktif memitigasi risiko iritasi kimiawi dan mekanis. Selain itu, menekan kelembaban berlebih (maserasi) yang kerap menjadi media subur bagi kolonisasi Candida albicans dan bakteri patogen penyebab infeksi sekunder.
Fransisca Vania Harista, Senior Brand Manager Baby Happy, menekankan pentingnya edukasi orangtua mengenai kesehatan kulit bayi melalui pemilihan popok yang tepat dan kebiasaan mengganti popok secara rutin. Ia menjelaskan bahwa ruam popok masih menjadi salah satu masalah kulit paling umum pada bayi, terutama ketika kulit terlalu lama terpapar kelembapan dan gesekan. Melalui festival ini, Baby Happy ingin mengajak orangtua untuk lebih peduli terhadap kesehatan kulit si kecil dengan menghadirkan rangkaian kegiatan edukatif, interaktif, sekaligus menyenangkan.
“Kampanye ini tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga pada gerakan sosial yang mengedepankan kesadaran akan pentingnya menjaga kulit bayi tetap sehat sejak dini. Baby Happy menghadirkan sesi diskusi bersama dokter anak, workshop parenting, hingga aktivitas komunitas yang mengajarkan praktik mengganti popok dengan benar,” ia menambahkan.
Festival ini juga sejalan dengan tren health parenting di Indonesia, di mana orangtua semakin mencari informasi berbasis sains dan praktik nyata untuk mendukung tumbuh kembang anak. Dengan mengusung tema Gerakan Anti Ruam, Baby Happy berupaya membangun ekosistem dukungan yang melibatkan tenaga medis, komunitas, dan brand, sehingga pesan kesehatan kulit bayi dapat tersampaikan lebih luas dan berdampak nyata.
“Semua ini dirancang untuk memberikan pengalaman menyeluruh bagi orangtua, sehingga mereka dapat memahami bahwa pencegahan ruam bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari perawatan kesehatan bayi secara holistik,” ia menambahkan.
