Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,45 Persen di Semester I 2026: Tertinggi di G20 dan ASEAN

Jajaran Menteri Prabowo

ASIAWORLDVIEW – Ekonomi Indonesia tumbuh 5,45 persen pada semester I 2026, melampaui rata-rata global dan menempati peringkat tertinggi di antara negara-negara G20 dan ASEAN. Kondisi tersebut didorong oleh kinerja investasi yang kuat dan sektor ekonomi produktif.

Hal itu diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pembaruan makroekonomi tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. Angka ini menandai dua tahun pertama masa jabatan pemerintahan.

“Ekonomi kita terus tumbuh di atas 5 persen, tepatnya 5,45 persen. Ini lebih tinggi dari rata-rata global 3 persen. Bahkan, ini yang tertinggi di antara negara G20 dan juga salah satu yang tertinggi di ASEAN,” kata Airlangga dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).

Pertumbuhan 5,45 persen merupakan capaian yang signifikan. Angka ini bukan hanya mencerminkan ketahanan domestik, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia mampu memanfaatkan momentum investasi dan konsumsi di tengah ketidakpastian eksternal.

Ia menyoroti indikator stabilitas internal, termasuk Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur sebesar 52,4 yang menandakan ekspansi, surplus perdagangan yang kuat sebesar 7,25 miliar dolar AS, dan sentimen konsumen yang berada di level 118,1.

Baca Juga: Bapanas Bangga Indonesia Semakin Dekat Menuju Kedaulatan Pangan di Era Prabowo

Selain itu, tingkat pengangguran turun menjadi 4,65 persen, level terendah sejak 1994, sementara rasio Gini membaik menjadi 0,368—sebuah sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi mulai lebih inklusif, meskipun ketimpangan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai.

Dari sisi fiskal dan moneter, metrik tetap sehat: defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terjaga di 1,24 persen, cadangan devisa mencapai US$146,3 miliar yang cukup untuk membiayai 6,5 bulan impor, dan kredit perbankan tumbuh dua digit sebesar 13,65 persen.

“Kombinasi ini menunjukkan bahwa stabilitas makroekonomi tetap terjaga di tengah tekanan global, sesuatu yang tidak selalu mudah dicapai oleh negara berkembang,” tambahnya.

Namun, tantangan tetap ada: pertumbuhan kredit yang tinggi perlu diimbangi dengan kualitas kredit yang baik, sementara defisit fiskal yang rendah memberi ruang fiskal untuk merespons guncangan jika diperlukan.

Untuk menjaga daya beli dan momentum pertumbuhan hingga akhir tahun, pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi kuartal IV yang komprehensif. Langkah-langkah tersebut mencakup program “satu orang, satu rekening” yang didukung Rp1,28 triliun, program bantuan pangan berupa 10 kilogram beras per bulan untuk 33,24 juta rumah tangga dengan alokasi Rp17,54 triliun.

Selain itu, terdapat subsidi upah Rp300.000 per bulan selama tiga bulan yang mencakup 13,3 juta pekerja dengan nilai Rp11,97 triliun. Pemerintah menyiapkan stimulus transportasi akhir tahun untuk periode liburan Natal dan Tahun Baru, dengan alokasi Rp883,4 miliar yang bermanfaat bagi sekitar 6,6 juta pelancong. Paket ini mencakup diskon 30 persen untuk tiket perjalanan dan feri, harga khusus pelabuhan ASDP, serta Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah untuk penerbangan domestik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *