Rupiah Dibuka Sedikit Menguat, Sentimen Ditopang Risalah The Fed

Tumpukan uang Dolar AS dan Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menunjukkan tren penguatan tipis pada Kamis (8/10/2026), pada pembukaan perdagangan di Jakarta, melanjutkan momentum apresiasi moderat dari sesi perdagangan sebelumnya. Berdasarkan berbagai sumber data pasar, Rupiah dibuka pada level 17.871 Rupiah per dolar AS, menguat sekitar 16 poin atau 0,09% dibandingkan harga penutupan hari perdagangan sebelumnya di Rp17.887.

Penguatan ringan rupiah kali ini terutama didorong oleh faktor eksternal. Katalisator paling langsung adalah risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan September yang dirilis oleh The Fed pada dini hari tanggal 8 Oktober waktu Jakarta.

Analis pasar mencatat bahwa meskipun notulen tersebut masih bernuansa “hawkish”, yaitu cenderung ke arah kebijakan moneter yang ketat. Namun isinya pada dasarnya sejalan dengan ekspektasi pasar dan tidak muncul sinyal yang lebih keras yang tidak terduga. Hal ini berarti dana safe-haven yang sebelumnya mengalir ke aset dolar AS sebagian karena kekhawatiran akan pengetatan kebijakan The Fed yang melebihi ekspektasi, mengalami penarikan taktis sementara, sehingga memberikan ruang bernapas bagi mata uang pasar emerging, termasuk rupiah.

Baca Juga: Peran Strategis Industri Sawit dalam Perekonomian Indonesia yang Berkelanjutan

Pelaku pasar sedang mencermati dengan saksama Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) bulan September 2026 yang akan dirilis oleh Bank Indonesia (BI) pada siang hari ini. Sebagai indikator penting yang mengukur pandangan sektor rumah tangga terhadap prospek ekonomi, data ini memiliki nilai referensi dalam mengevaluasi kekuatan permintaan domestik dan efektivitas transmisi kebijakan moneter. IKK bulan Agustus sebelumnya tercatat sebesar 118,5, naik dari 116,8 pada bulan Juli, yang menunjukkan bahwa optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi masih kokoh. Jika data bulan September melanjutkan atau melampaui level tersebut, hal ini berpotensi memberikan dukungan psikologis tambahan bagi rupiah.

Meskipun pembukaan pasar hari itu menunjukkan tanda-tanda positif, berbagai faktor tekanan struktural masih membatasi ruang apresiasi rupiah. Pertama, imbal hasil obligasi pemerintah AS terus berada pada level tinggi. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mencatat bahwa sumber tekanan terbesar yang dihadapi rupiah tetaplah “selisih imbal hasil dan preferensi investor terhadap aset dolar AS”. Selama imbal hasil obligasi AS tetap tinggi, aset dolar AS relatif lebih menarik, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut.

Pergerakan harga minyak internasional menjadi ancaman potensial lainnya. Karena Indonesia masih merupakan negara pengimpor minyak mentah bersih, jika harga minyak Brent terus berada di atas 100 dolar AS per barel, hal ini akan meningkatkan kebutuhan devisa impor Indonesia, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada rupiah dan berpotensi berdampak pada inflasi domestik. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk risiko pelayaran di Selat Hormuz, semakin memperparah ketidakpastian harga energi.

Bank Indonesia masih memiliki ruang gerak tertentu untuk melakukan intervensi. Per September 2026, cadangan devisa Indonesia mencapai sekitar 146,3 miliar dolar AS, turun sedikit dibandingkan Agustus, namun mendekati level tertinggi dalam lima bulan terakhir. Hal ini memberikan amunisi bagi BI untuk meredam fluktuasi nilai tukar yang berlebihan jika diperlukan. Namun, para ekonom secara umum berpendapat bahwa intervensi BI lebih cenderung bertujuan untuk “menstabilkan” daripada “mengubah tren”.

Dari sisi pasar antarbank, Bank Indonesia hari ini mengumumkan harga acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) sebesar 17.880 rupiah per dolar AS. Selisih harga beli dan jual dolar AS di tingkat bank komersial sedikit melebar: harga beli kurs elektronik BCA sebesar 17.880 rupiah, sedangkan harga jualnya 17.900 rupiah; harga beli kurs elektronik BRI sebesar 17.864 rupiah, sedangkan harga jualnya 17.886 rupiah; sementara harga beli kurs khusus Mandiri sebesar 17.860 rupiah dan harga jual sebesar 17.890 rupiah. Data-data ini menunjukkan bahwa meskipun pasar spot sedikit menguat, penawaran harga yang diberikan bank kepada nasabah masih mencerminkan sikap hati-hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *