ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin mengalami tekanan jual yang signifikan dan kembali turun di bawah level psikologis USD83.000, Kamis (8/10/2026). Berdasarkan data Tokocrypto, harga Bitcoin berada di sekitar USD83.210,76, melemah 2,48% dalam 24 jam terakhir.
Sebelumnya, BTC sempat naik ke level tertinggi USD84.625,95. Namun gagal mempertahankan momentum tersebut dan turun ke titik terendah USD82.771,79 dalam periode yang sama.
Penurunan ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari tekanan yang lebih luas terhadap aset berisiko di pasar keuangan global. Pemicu utamanya adalah lonjakan harga minyak mentah setelah muncul laporan bahwa Gedung Putih telah meminta Pentagon untuk menyusun opsi serangan militer terhadap Iran. Meskipun laporan tersebut tidak menyatakan bahwa operasi militer telah disetujui, pasar tetap bereaksi cepat. Brent crude melonjak di atas USD101 per barel, sementara laporan lain menyebutkan harga sempat menembus USD102. Kenaikan harga energi ini langsung memunculkan kembali kekhawatiran inflasi, yang pada gilirannya mendorong investor untuk menuntut imbal hasil yang lebih tinggi dari obligasi pemerintah jangka panjang.
Tekanan dari pasar obligasi Amerika Serikat menjadi faktor yang sangat dominan. Imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun sempat mencapai level 5,36%, tertinggi sejak tahun 2002, sementara yield tenor 30 tahun bahkan menyentuh 5,73%. Kenaikan yield ini membuat aset-aset berbasis dolar AS semakin menarik, sekaligus menekan daya tarik relatif Bitcoin yang tidak menghasilkan imbal hasil. Selain itu, risalah rapat FOMC bulan September yang dirilis pada periode yang sama mengonfirmasi sikap hawkish The Federal Reserve.
Baca Juga: Bitcoin Gagal Breakout, Tertahan di USD86.000
Dampak dari kombinasi faktor makroekonomi ini diperparah oleh gelombang likuidasi posisi leveraged di pasar kripto. Data CoinGlass mencatat bahwa dalam 24 jam, sekitar USD714,47 juta posisi di seluruh pasar kripto tergerus, dengan sebagian besar merupakan posisi long atau taruhan pada kenaikan harga. Sekitar 124.276 trader terkena likuidasi.
Salah satu likuidasi terbesar terjadi di Binance pada posisi ETHUSDC senilai sekitar USD26,64 juta. Likuidasi massal ini menciptakan lingkaran umpan balik negatif: harga turun memicu likuidasi, dan likuidasi pada gilirannya menekan harga semakin rendah. Data menunjukkan bahwa sebagian besar kerugian terkonsentrasi dalam periode 12 jam, mengindikasikan betapa cepatnya posisi-posisi long tersapu bersih.
Dari perspektif struktur pasar yang lebih luas, pola bullish bertahap (stair-step) yang telah terbentuk sejak Juli masih belum sepenuhnya rusak, tetapi sedang diuji dengan serius. Pola ini ditandai oleh rentang perdagangan sideways yang berjenjang ke atas, dengan setiap rentang baru berada lebih tinggi dari sebelumnya. Rentang terbaru terbentuk di antara USD83.000 dan USD87.000.
Analis Vikram Subburaj dari bursa Giottus menyatakan bahwa jika level USD83.000 bertahan, ini akan menunjukkan bahwa penjual tidak mampu memaksa harga kembali ke rentang perdagangan sebelumnya.
Sentimen pasar saat ini tercermin dari Crypto Fear & Greed Index yang berada di angka 61, masih dalam zona “Greed” tetapi turun dari puncak 73 pada bulan September lalu. Penurunan indeks ini menunjukkan bahwa meskipun optimisme belum sepenuhnya hilang, investor mulai beralih ke mode lebih defensif. Beberapa analis mencatat bahwa volume perdagangan di bursa spot dan ETF Bitcoin AS masih berada di bawah rata-rata historis, yang berarti pergerakan harga saat ini lebih banyak digerakkan oleh dinamika posisi dan leverage daripada oleh permintaan baru yang signifikan. Glassnode mencatat bahwa arus keluar bersih dari交易所 mencapai 24.073 BTC, yang merupakan arus keluar harian terbesar sejak 1 Maret, mengindikasikan bahwa tekanan jual tidak hanya datang dari likuidasi derivatif tetapi juga dari perpindahan aset di pasar spot.

