ASIAWORLDVIEW – Nanyang Film Festival untuk pertama kalinya digelar di PIK Avenue, Jakarta, dan langsung mencuri perhatian sebagai salah satu momen paling signifikan dalam kalender perfilman nasional tahun ini. Pemilihan PIK Avenue sebagai lokasi perdana bukan tanpa alasan. Kawasan ini telah lama dikenal sebagai destinasi gaya hidup modern di ibu kota, dengan fasilitas yang mampu menampung acara berskala internasional dan magnet yang kuat bagi publik luas.
“Kehadiran Nanyang Film Festival di Jakarta juga menandai langkah strategis untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah tetap bagi ajang perfilman regional. Dalam industri yang semakin terhubung secara global, menjadi tuan rumah bukan hanya soal gengsi, tetapi juga soal akses: akses ke jaringan distributor, ke pasar baru, dan ke kolaborasi yang selama ini sulit dijangkau,” sebut Rudi Suwoto, Secretary-General of The Indoensia-China Freindship Association.
Setelah tampil di Nanyang Film Festival, langkah membawa film Indonesia ke China menjadi strategi penting dalam memperluas jangkauan perfilman nasional ke pasar internasional. Festival tersebut berfungsi sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan karya sineas Indonesia kepada audiens Asia, khususnya Tiongkok yang memiliki ekosistem perfilman besar dan pasar penonton yang sangat potensial. Dalam konteks showbiz, China bukan sekadar pasar tambahan.
Baca Juga: Pakar: Film Horor Jadi Diplomasi Budaya Indonesia
Ini menjadi salah satu pasar film terbesar di dunia, dengan jumlah layar bioskop yang melampaui 80.000 dan basis penonton yang sangat besar. Kehadiran film China di Indonesia begitu juga sebaliknya, bukan hanya soal distribusi komersial, tetapi juga diplomasi budaya. Kegiatan ini memperlihatkan kekayaan narasi lokal, keberagaman budaya Nusantara, serta kualitas teknis yang semakin kompetitif.
Nanyang Film Festival juga menghadirkan kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menikmati film-film China berkualitas tinggi yang sarat dengan unsur budaya. Melalui kurasi yang cermat, festival ini menampilkan karya-karya yang tidak hanya unggul secara teknis dan artistik, tetapi juga kaya akan nilai tradisi, filosofi, dan identitas budaya Tiongkok.
Penonton diajak untuk melihat bagaimana sineas China mengolah cerita klasik maupun kontemporer dengan pendekatan sinematografi modern, sehingga menghasilkan pengalaman menonton yang mendalam sekaligus edukatif. Kehadiran film-film ini di Jakarta membuka ruang dialog lintas budaya, memperkuat pemahaman masyarakat Indonesia terhadap kekayaan seni visual Tiongkok, serta memperluas wawasan tentang bagaimana film dapat menjadi medium diplomasi budaya.
Legitimasi ini penting karena pasar China dikenal selektif dan memiliki mekanisme kurasi yang ketat. Festival berfungsi sebagai semacam “stempel kualitas” yang membantu distributor lokal meyakinkan pihak berwenang dan jaringan bioskop bahwa film Indonesia layak mendapat slot tayang.
“Setelah ini, giliran film Indonesia yang diboyong ke Tiongkok. Dengan dukungan festival seperti Nanyang, film Indonesia mendapat legitimasi dan eksposur yang lebih kuat, sehingga memudahkan proses kurasi untuk ditayangkan di bioskop, platform streaming, maupun festival film di berbagai kota besar di China,” pungkasnya.
