Gigi Balang dan Roti Buaya di Toko Sneaker: Ketika adidas Originals Membumikan Jakarta

ASIAWORLDVIEW – Perpaduan gaya global adidas Originals dengan kekayaan budaya Jakarta menjadi keunikan utama adidas Originals Pondok Indah Mall 3 yang kembali dibuka dengan wajah baru dan area toko yang lebih luas. Melalui kemitraan dengan Kanmo Group sebagai retail partner adidas Indonesia, toko ini menghadirkan ruang bagi pecinta fashion dan street style untuk mengeksplorasi koleksi adidas Originals yang beragam, serta menemukan inspirasi gaya personal dan ekspresi diri dengan perpaduan sportswear dan sentuhan budaya lokal.

Mengangkat karakter khas Jakarta, desain toko ini mengintegrasikan elemen budaya Betawi melalui ornamen gigi balang yang terinspirasi dari arsitektur rumah tradisional Betawi, serta pola dan gaya artistik Betawi pada lantai keramik. Elemen ini menghadirkan interpretasi modern terhadap warisan budaya Jakarta dalam estetika kontemporer adidas Originals. Dalam lanskap ritel global, pendekatan semacam ini bukan hal baru—banyak merek internasional berusaha mendekatkan diri dengan pasar lokal melalui desain toko dan produk edisi terbatas.

Namun, yang membedakan adalah cara elemen budaya ditempatkan: bukan sebagai dekorasi tempelan, melainkan sebagai bagian dari bahasa desain yang membentuk pengalaman ruang. Gigi balang, yang biasanya hadir sebagai papan kayu bermotif di atap rumah Betawi, kini menjadi ornamen yang menyambut pengunjung di sebuah toko sportswear modern.

“Sebagai retail partner adidas Indonesia, kami ingin menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih dari sekadar menemukan produk. Melalui adidas Originals PIM 3, kami ingin memadukan kreativitas, budaya lokal, dan personalisasi dalam sebuah ruang yang relevan dengan karakter Jakarta, sekaligus memberikan kesempatan bagi konsumen untuk mengekspresikan gaya mereka,” ujar Inderpreet Singh, Vice President Footwear & Active Kanmo Group.

Baca Juga: Diplomasi Budaya Indonesia-China, Nanyang Film Festival 2026 Resmi Dihelat di Jakarta

Melengkapi pengalaman berbelanja, adidas Originals PIM 3 juga menghadirkan Made For You, area personalisasi yang memungkinkan pelanggan mengekspresikan gaya mereka melalui patch eksklusif yang hanya tersedia di toko ini. Berkolaborasi dengan ilustrator lokal Kriung, koleksi patch ini menampilkan ikon khas Jakarta, seperti roti buaya, ondel-ondel, bajaj, hingga angkot, melalui ilustrasi warna-warni dengan sentuhan khas adidas. Selain koleksi adidas Originals, toko ini juga menghadirkan area khusus untuk koleksi Y-3 yang memadukan warisan sportswear adidas dengan pendekatan desain fashion kontemporer dari Yohji Yamamoto.

Melalui siluet yang sleek dan modern, serta eksplorasi desain eksperimental, Y-3 menawarkan perspektif berbeda dalam mengekspresikan gaya dan identitas personal. Pengalaman reopening turut diramaikan dengan fashion show yang memadukan gaya adidas Originals dengan inspirasi budaya Betawi, serta berbagai interpretasi street style lainnya. Acara ini juga menghadirkan aktivitas bag charm customization, yang mengajak pengunjung berkreasi dan mempersonalisasi aksesori sesuai gaya masing-masing.

“adidas Originals terus berkembang melalui kreativitas serta keberanian yang membentuk budaya kontemporer. Kehadiran adidas Originals PIM 3 menunjukkan bagaimana identitas dan kekayaan budaya lokal dapat berpadu dengan gaya global, menciptakan ruang yang relevan bagi masyarakat untuk berekspresi. Kami berharap kehadiran toko ini dapat merayakan identitas budaya Jakarta, sekaligus menginspirasi lebih banyak masyarakat untuk mengeksplorasi kreativitas, menemukan gaya personal dan mengekspresikan individualitas mereka melalui fashion,” tutup Cinita Dewi Mayakatri, Senior Manager Brand Activation adidas Indonesia.

Secara keseluruhan, pembukaan kembali adidas Originals PIM 3 menunjukkan bagaimana merek global dapat membangun relevansi dengan pasar lokal tanpa kehilangan identitasnya. Strategi ini bukan tanpa risiko: jika eksekusinya salah, elemen budaya bisa terasa dipaksakan atau sekadar komodifikasi. Namun, dalam kasus ini, kolaborasi dengan ilustrator lokal dan penggunaan ornamen arsitektur Betawi memberi kesan bahwa ada usaha untuk memahami konteks, bukan sekadar menempelkan label “Jakarta” pada produk. Bagi konsumen, ruang seperti ini menawarkan lebih dari sekadar tempat membeli sepatu; ini menjadi panggung kecil tempat identitas kota dan gaya global saling berbicara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *