ASIAWORLDVIEW – Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat gastronomi dunia. Bukan tanpa alasan—negeri ini adalah surga rempah, rumah bagi ratusan etnis dengan tradisi kuliner yang tak terhitung jumlahnya. Tak kalah penting, masyarakatnya dikenal ramah dan hangat. Ini adalah kombinasi sempurna yang tidak dimiliki banyak negara: kekayaan rasa, cerita di balik setiap hidangan, dan senyuman tulus yang menyambut setiap tamu.
“Indonesia bisa menawarkan pengalaman wisata budaya dan gastronomi otentik kepada para wisatawan. Mereka melakukan perjalanan untuk pengalaman otentik dan gastronomi telah menjadi salah satu motivator perjalanan terkuat di dunia,” kata Menteri Pariwisata Widyanti Putri Wardhana pada acara pembukaan pameran Food and Hospitality Indonesia 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Baca Juga: Era Baru Pariwisata Indonesia: Merawat Tubuh, Jiwa, dan Budaya
Gastronomi telah menjadi salah satu motivator perjalanan terkuat di dunia. Wisatawan masa kini, terutama generasi milenial dan Gen Z, tidak lagi sekadar ingin berfoto di tempat ikonik; mereka haus akan pengalaman autentik yang menyentuh indera—dan kuliner adalah pintu masuk paling intim untuk memahami budaya suatu bangsa.
“Mereka melakukan perjalanan untuk pengalaman otentik,” tegasnya. “Gastronomi telah menjadi salah satu motivator perjalanan terkuat di dunia.”
Inilah momen emas bagi Indonesia. Dengan kekayaan kuliner yang melimpah, mulai dari hidangan istana yang sarat filosofi hingga jajanan pinggir jalan yang menggugah selera, kita memiliki semua bahan untuk menjadi destinasi gastronomi papan atas. Namun, potensi ini tentu membutuhkan kemasan yang tepat agar tidak sekadar menjadi cerita lama, tetapi menjadi pengalaman yang terorganisasi, bersih, dan mudah diakses oleh wisatawan global.
Kementerian Pariwisata tidak tinggal diam. Bersama dengan Indonesia Gastronomy Network, mereka telah meluncurkan program Wonderful Indonesia Gourmet (WIG), sebuah inisiatif strategis yang dirancang untuk mengangkat wisata budaya dan gastronomi ke level yang lebih profesional dan berdampak.
Program ini tidak hanya berfokus pada promosi, tetapi juga pada peningkatan kualitas pengalaman wisatawan dari hulu ke hilir, mulai dari bagaimana hidangan disajikan, bagaimana cerita di balik makanan itu disampaikan, hingga bagaimana masyarakat lokal diberdayakan untuk menjadi tuan rumah yang kompeten. Ini adalah langkah cerdas yang menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya ingin menjual makanan, tetapi juga ingin membangun ekosistem yang berkelanjutan.
