ASIAWORLDVIEW – Teh Do Hang Pao, atau lebih dikenal sebagai Da Hong Pao (Big Red Robe) tengah viral. Bahkan, banyak dijajakan di kedia-kedai minuman kekinian, dengan campuran sisi. Ini adalah salah satu teh oolong paling legendaris dari Tiongkok yang populer karena rasa kompleks, aroma khas bunga anggrek, serta statusnya sebagai “King of Tea.” Popularitasnya meningkat karena kombinasi legenda sejarah, kualitas tinggi, dan harga yang bisa sangat mahal.
Menyeduh secangkir Da Hong Pao bukanlah sekadar ritual membuat teh, melainkan sebuah perjalanan sensori yang membawa kita menelusuri kabut pegunungan Wuyi yang mistis di Provinsi Fujian, Tiongkok—sebuah pengalaman gastronomi yang menggoyang lidah sekaligus menyentuh relung sejarah. Dikenal sebagai “Raja Teh” atau Big Red Robe, teh oolong legendaris ini memiliki karakter yang begitu dalam dan berlapis, dimulai dari penampakan daunnya yang keriting gelap dengan semburat merah kecokelatan, hingga saat disiram air panas mendidih (idealnya 95°C) yang langsung melepaskan aroma hangat khas anggrek bercampur nuansa batu panggang yang kuat, Asia World View mengutip China Highlight, Senin (31/8/2026).
Aroma yang oleh para penikmatnya disebut sebagai yan yun atau “irama batu”. Ini menjadi cita rasa mineral yang hanya bisa lahir dari tanah berbatu kaya mineral di kawasan Wuyi. Ketika tegukan pertama menyentuh langit-langit mulut, lidah akan disambut oleh simfoni rasa yang kontradiktif namun harmonis.
Saat meminum Do Hang Pao original, terdapat sentuhan buah gelap semisal plum atau kurma, lalu disusul oleh lapisan kakao pekat yang mewah. Selain ittu, karamel gosong yang manis, serta sentuhan kayu cendana panggang yang hangat dan membumi, semuanya membalut indra pengecap dengan kekayaan tekstur yang lembut dan oleaginous, berkat proses oksidasi tinggi mencapai 60–80 persen serta pemanggangan berulang dengan arang yang memberikan kedalaman karakter yang tak tertandingi—sebuah perjalanan rasa yang terus bertransformasi sepanjang 9 hingga 12 kali seduhan.
Baca Juga: Persiapan Mid-Autumn Festival, Merayakan Kebersamaan di Bawah Cahaya Rembulan
Uniknya, setiap tambahan air panas justru membuka lapisan baru yang lebih halus dan manis, seolah teh ini sedang bercerita panjang tentang usianya.
Daya tarik Da Hong Pao sejatinya melampaui rasa; di baliknya terbentang kisah romantisme budaya yang melekat kuat: legenda menuturkan bahwa seorang pejabat atau permaisuri yang sakit parah berhasil disembuhkan berkat teh ajaib ini, lalu sebagai ungkapan syukur, jubah merah sang bangsawan (atau selendang merah kekaisaran) disampirkan ke semak-semak teh, yang kemudian melahirkan nama ikonis itu, menjadikan setiap tegukan seakan merasakan napas sejarah dan keberuntungan dari dinasti kuno.
Da Hong Pao menjelma lebih dari sekadar komoditas minuman. Ini menjadi simbol status, koleksi, dan apresiasi estetika tertinggi bagi para pecinta teh di seluruh dunia. Apalagi keenam pohon induk asli yang berusia ratusan tahun kini dilindungi sebagai harta nasional dan daunnya sudah tidak dipanen komersial sejak 2005.
Kemasan Da Hong Pao yang kita temui di pasaran adalah keturunan klon dari kultivar asli. Namun tetap mempertahankan karakter mulia sang leluhur, dan inilah yang membuat harganya kerap menembus angka fantastis hingga mencapai rekor lelang miliaran rupiah per kilogram, menjadikannya incaran para kolektor dan penggemar yang menganggap secangkir teh bukanlah pengeluaran, melainkan investasi akan pengalaman hidup.
