Pakar: Obesitas Tingkatkan Risiko Radang Sendi pada Lutut

ASIAWORLDVIEW Berat badan berlebih terbukti menjadi salah satu faktor risiko utama osteoartritis pada lutut. Hal itu karena tidak hanya meningkatkan beban mekanis pada sendi, tetapi juga memicu peradangan sistemik melalui aktivitas jaringan lemak. Kondisi ini mempercepat kerusakan tulang rawan, menimbulkan nyeri kronis, dan menurunkan kualitas hidup.

“Orang dengan obesitas rentan terkena osteoartritis, jenis radang sendi paling umum yang ditandai dengan kerusakan tulang rawan. Berbeda dengan osteoporosis, osteoartritis ini menyebabkan tulang di dalam sendi saling bergesekan dan menimbulkan nyeri, kekakuan, serta keterbatasan gerak,” sebut dr. Ihsan Oesman, Sp.OT(K), dalam diskusi media, Jumat (28/8/2026).

Lutut sebagai sendi penopang tubuh menerima beban tambahan setiap kali seseorang berjalan; misalnya, setiap kenaikan 4,5 kg berat badan dapat menambah tekanan hingga 30–60 pon pada lutut di setiap langkah. Tekanan ini mempercepat degradasi tulang rawan, menimbulkan nyeri, dan memicu keterbatasan gerak.

“Ketika beban tubuh lebih besar, tentu beban pada lutut juga akan bertambah. Jaringan lemak berlebih dapat memicu perubahan pada tingkat sel yang berkaitan dengan proses peradangan kronis, yang berpotensi mempercepat kerusakan jaringan sendi,” jelasnya.

Baca Juga: Rahasia Anti-Penuaan, Minuman Kolagen untuk Kecantikan dan Kesehatan?

Selain faktor mekanis, obesitas juga memicu peradangan melalui produksi adipokines seperti leptin, resistin, dan visfatin, serta sitokin pro-inflamasi (IL-6, TNF-α) yang mempercepat kerusakan jaringan sendi. Osteoartritis kini dipahami sebagai “whole joint disease,” artinya bukan hanya tulang rawan yang rusak, tetapi juga tulang subkondral, ligamen, otot, dan membran sinovial ikut terpengaruh—dan obesitas memperburuk semua komponen tersebut.

Secara klinis, risiko osteoartritis lutut meningkat tajam pada individu dengan obesitas. Wanita obesitas memiliki hampir empat kali lipat risiko, sementara pria obesitas hingga lima kali lipat dibandingkan mereka yang memiliki berat badan normal. Nyeri yang muncul bisa bersifat nociceptive akibat kerusakan jaringan maupun neuropatik akibat perubahan saraf, dan obesitas memperburuk kedua jenis nyeri ini. Akibatnya, penderita mengalami penurunan mobilitas, kesulitan berjalan, dan penurunan kualitas hidup, terutama pada usia lanjut.

Penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat badan meskipun kecil tetap memberikan manfaat signifikan. Penurunan sekitar 5 kg dapat mengurangi risiko osteoartritis lutut lebih dari 50% pada wanita dengan BMI ≥25, serta membantu mengurangi intensitas nyeri dan memperbaiki fungsi sendi.

“Berat badan ideal bukan hanya menjaga stabilitas lutut, tetapi juga memperlambat progresi penyakit, sehingga strategi pengelolaan berat badan melalui pola makan sehat, olahraga teratur, dan gaya hidup aktif menjadi langkah penting dalam pencegahan maupun pengelolaan osteoartritis lutut,” ia menambahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *