Selain Indonesia, Ini Negara yang Merayakan Kemerdekaan pada Bulan Agustus

Bendera Merah Putih yang berkibar.

ASIAWORLDVIEW – Ketika sebuah negara menetapkan hari kemerdekaannya pada bulan Agustus, hal itu bukan sekadar penanda di kalender, melainkan jejak sejarah tentang keberanian dan perlawanan. Indonesia menetapkan tanggal 17 Agustus setiap tahun sebagai momen kelahiran bangsa.

Baca Juga: Pesta Lomba Kemerdekaan, Hidupkan Kembali Semangat 1945 Saat Ini

namun di peta dunia, lonceng kebebasan beberapa negara lain juga berbunyi pada hari-hari yang berdekatan, Korea Selatan, India, Gabon, hingga negara tetangga Malaysia. semuanya telah menulis bab pembebasan yang unik dengan caranya masing-masing.

Korea Selatan: 15 Agustus

Bendera Korea Selatan
Bendera Korea Selatan

Pada 15 Agustus 1945, seluruh Semenanjung Korea diliputi oleh perasaan yang campur aduk—antara kegembiraan yang meluap-luap dan kekosongan. Pada hari itu, Jepang menyerah tanpa syarat, mengakhiri penjajahan kejam yang berlangsung selama 35 tahun. Bagi Korea Selatan, hari ini dikenal sebagai “Hari Kemerdekaan” (Gwangbokjeol), yang secara harfiah berarti “Kembalinya Cahaya”.

Namun, hari ini tidak berarti dimulainya kemerdekaan sepenuhnya. Semenanjung tersebut dibagi menjadi zona pendudukan tentara AS dan tentara Soviet oleh Garis Lintang Utara 38 derajat, yang menjadi cikal bakal Perang Korea di kemudian hari.

Tanggal 15 Agustus tetap menjadi simbol yang tak tergoyahkan dalam sejarah Korea. Simbol kebangkitan identitas nasional, kembalinya bahasa, serta pintu yang kembali terbuka menuju dunia bebas. Korea Selatan dan Indonesia, meskipun masing-masing mengalami penjajahan yang berbeda—penjajahan Jepang terhadap Korea lebih langsung dan berkepanjangan—keduanya memilih pertengahan Agustus sebagai simbol kemauan nasional mereka, seolah-olah menetapkan nada bagi gelombang pembebasan di seluruh kawasan Asia Timur.

India: 15 Agustus 1947

Bendera India
Bendera India

Ketika Korea merayakan pembebasannya pada 15 Agustus 1945, India masih berjuang keras untuk menyambut hari tersebut. Dua tahun kemudian, pada tanggal yang sama—15 Agustus 1947—India akhirnya mewujudkan impian kemerdekaannya yang telah lama dinanti, dan kekuasaan Kekaisaran Britania di subbenua tersebut yang berlangsung selama hampir dua abad pun berakhir. Pemilihan tanggal ini bukanlah kebetulan: Gubernur Jenderal Inggris terakhir di India, Lord Mountbatten, sengaja memilih tanggal 15 Agustus untuk memperingati Hari Kemenangan Sekutu atas Jepang (V-J Day) dalam Perang Dunia II.

Namun, kegembiraan kemerdekaan itu juga diwarnai dengan rasa sakit yang mendalam. Pada hari yang sama, Pakistan diproklamasikan, menandai pemisahan (Partition) Semenanjung India—sebuah peristiwa yang memicu migrasi massal dan konflik yang melibatkan jutaan orang. Namun, hari itu tetap menjadi momen puncak semangat kebangsaan India.

Ketika Jawaharlal Nehru menyampaikan pidato “Perjanjian dengan Takdir” di Benteng Merah, jutaan orang India tidak hanya mendengar deklarasi kebebasan politik, tetapi juga pengakuan bahwa sebuah peradaban kuno kembali berdiri tegak di antara bangsa-bangsa dunia.

Menariknya, terdapat pula dialog historis antara India dan Indonesia—keduanya merupakan negara pendiri Gerakan Non-Blok dan berbagi kenangan bersama dalam perjuangan melawan kolonialisme. Oleh karena itu, hubungan antara tanggal 15 Agustus dan 17 Agustus bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan gema dari dua gelombang kemerdekaan yang terjadi pada periode yang sama.

Gabon: 17 Agustus 1960

Bendera negara Gabon di Afrika
Bendera negara Gabon di Afrika

Jika Korea Selatan dan India menetapkan hari kemerdekaan mereka pada tanggal 15, yang hanya berselisih beberapa hari dengan Indonesia, maka Gabon benar-benar “berbagi” tanggal yang sama dengan Indonesia—17 Agustus, meskipun terpisah selang waktu 15 tahun penuh.

Pada tahun 1960, benua Afrika sedang dilanda gelombang kemerdekaan berskala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tahun ini dikenal sebagai “Tahun Kemerdekaan Afrika”, di mana sebanyak 17 negara Afrika membebaskan diri dari penjajahan dan mendeklarasikan kemerdekaannya. Di tengah gelombang tersebut, Gabon secara resmi memperoleh kemerdekaan dari Prancis pada tanggal 17 Agustus. Léon Mba menjadi presiden pertama negara di Afrika Tengah ini, sementara sumber daya minyak yang melimpah dan hutan hujan tropisnya membentuk identitas geografis yang unik.

Meskipun kemerdekaan Gabon terjadi 15 tahun setelah kemerdekaan Indonesia, tumpang tindihnya tanggal kemerdekaan kedua negara tetap memiliki makna simbolis—hal ini mengingatkan kita bahwa gerakan dekolonisasi adalah gelombang besar yang melanda Asia, Afrika, bahkan seluruh dunia, bukan sekadar peristiwa terisolasi.

Malaysia: 31 Agustus

Bendera Malaysia
Bendera Malaysia

Berbeda dengan negara-negara yang disebutkan sebelumnya, Hari Kemerdekaan Malaysia tidak jatuh pada pertengahan Agustus, melainkan pada 31 Agustus—yaitu hari ketika negara tersebut merdeka dari penjajahan Inggris pada tahun 1957. Hari ini dikenal sebagai “Hari Merdeka”, di mana kata “Merdeka” berarti “kemerdekaan”.

Meskipun tanggalnya berbeda dua minggu dengan Indonesia, sejarah Malaysia memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan Indonesia. Kedua negara memiliki akar bahasa dan budaya yang sangat mirip, serta pernah mengalami hubungan yang rumit dalam sejarah, termasuk “Konfrontasi Indonesia-Malaysia” pada tahun 1963 hingga 1966. Konflik ini bermula dari penolakan Indonesia terhadap pembentukan Federasi Malaysia, dan akhirnya mereda berkat mediasi PBB.

Selain itu, perjalanan kemerdekaan Malaysia sedikit berbeda dengan Indonesia—prosesnya lebih bersifat transisi melalui negosiasi, bukan revolusi bersenjata. Namun, keduanya memiliki musuh bersama: kolonialisme. Di tingkat budaya, kedua negara berbagi akar peradaban yang bersumber dari Alam Melayu, hal ini juga dapat dilihat dari kesamaan perayaan Hari Kemerdekaan pada bulan Agustus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *