ASIAWORLDVIEW – Queenera Vienata Halim Lubis, bocah 10 tahun asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, yang mendadak menjadi pusat perhatian usai melenggang gagah di panggung Indonesia Fashion Week 2026. Di usianya yang baru menginjak kelas 5 SD, adik kecil ini membuktikan bahwa mimpi besar tak mengenal usia, dan perjalanannya dari Kota Gurun menuju ibu kota dengan semangat membara adalah pelajaran berharga bagi kita para orang tua tentang bagaimana mendukung keberanian anak untuk mengejar hasratnya sejak dini.
Meski sudah memiliki pengalaman berharga di Bangkok Fashion Week 2025, Queenera mengakui degup jantungnya tetap berdebar kencang setiap kali hendak melangkah di catwalk, apalagi saat ia harus mengenakan gaun Cinderella yang megah dan sangat berat. Ia juga memakai korset yang terasa begitu ketat dan tidak nyaman, namun dengan profesionalisme yang melampaui usianya.
Si kecil yang menawan ini berhasil menahan ekspresi dan tetap tampil memukau hingga akhir sesi. Sebuah momen yang mengajarkan kita bahwa mengajarkan anak menghadapi ketidaknyamanan demi sebuah tanggung jawab adalah bentuk latihan mental yang luar biasa.
Baca Juga: Ulos Simetria: Ketika Geometri Tradisi Menari di Atas Panggung Mode Kontemporer
Di balik gemerlap lampu panggung dan sorak penonton, ternyata ada dunia backstage yang hiruk-pikuk dan penuh kepanikan menyenangkan, yang oleh Queenera sendiri diibaratkan seperti kisah Cinderella sungguhan di mana semua orang berlarian mengejar waktu, gaun-gaun panjang silih berganti terinjak, dan persiapan tata rias yang memakan waktu lebih dari satu jam dengan sensasi semprotan setting spray dan hairspray yang menggelitik hidungnya.
Queenera menyebutkan bahwa sosok yang paling memberinya semangat adalah sang ibu. Ia mengakui mama sebagai inspirasi terbesar dan panutan utama dalam hidupnya, melebihi tokoh mode atau publik figur mana pun.
“Aku pengin bisa berjalan di Paris. Aku juga mulai belajar jadi model dari sekarang,” ucapnya polos.
Namun, di tengah riuhnya suasana itulah kita bisa melihat nilai pentingnya kebersamaan dan dukungan moral, seperti candaan ringan dari kru yang sukses mencairkan ketegangan, hingga ritual doa bersama dan obrolan santai dengan sesama model muda sebelum naik ke panggung.
Ini menjadi sebuah pengingat bagi kita sebagai orang tua bahwa di balik setiap pencapaian anak, ada tim dan lingkungan suportif yang berperan besar membentuk rasa aman dan percaya diri mereka.
