ASIAWORLDVIEW – Wewangian yang tumbuh sebagai brand wellness dan personal care yang menjadikan alam, budaya, serta pengalaman Indonesia sebagai bagian dari identitasnya ternyata populer. Dari sana lahir filosofi “Inspired by Earth, Made for You”, yang menerjemahkan karakter Indonesia ke dalam bahasa fragrance modern.
Sekumpulan wewangian yang tergabung dalam lini Secret Garden hadir sebagai respons terhadap pergeseran budaya ini, menawarkan tidak hanya variasi profil aroma yang luas dan pilihan personalisasi yang membuka ruang bagi penciuman yang sifatnya privat, tetapi juga fleksibilitas dalam ukuran kemasan yang memungkinkan pengguna untuk membawa dan mengganti aroma sesuai momen—sebuah gestur yang mengakui bahwa identitas hari ini bersifat fluida.
Billy Hartono Salim, pemilik Secret Garden, mengatakan, kekayaan lokal tidak harus hadir sebagai parfum tradisional Indonesia, melainkan dapat membawa karakter alam. Kini, bisa mendapatkan pengalaman Indonesia dalam bentuk yang lebih universal.
“Aroma bukanlah sekadar replika dari resep kuno atau sekadar klise bunga melati dan cendana yang sudah terlalu sering diulang. Wewangian sebagai medium naratif yang mampu menerjemahkan pengalaman inderawi akan alam Nusantara ke dalam bahasa penciuman yang lebih universal, tanpa kehilangan jejak asal-usulnya,” ia mengatakan, dikutip Asia World View, Rabu (12/8/2026).
Baca Juga: Populer Jadi Bahan Utama Body Care, Peach Bernutrisi untuk Kulit Glowing
Hal ini terlihat jelas dari bagaimana ia meramu setiap lini, di mana Frangipani Allure tidak hanya berbau seperti kamboja, melainkan berupaya menangkap kembali suasana teduh dan semilir angin Bali yang menemani tumbuhnya bunga tersebut; Coastal Breeze yang berusaha menghadirkan aroma asin dan lembab dari pesisir pantai yang berdebur.
Bahkan, Ethereal Woods yang menyajikan keteduhan dan kesegaran tanah hutan yang lembap. Selain itu, Blue Horizon yang berusaha membekukan kejernihan udara pagi yang masih dingin di ketinggian dataran tinggi.
Pendekatan yang mengutamakan pengalaman spasial dan emosional ini, menurut Billy, menjadi semakin relevan ketika generasi muda mulai memosisikan wewangian bukan lagi sebagai pelengkap rutin. Tapi sebagai alat ekspresi diri yang cair dan dinamis.
Filosofi “Scent Embraced by Time” yang diusung menjadi fondasi paling menarik dari pendekatan ini, karena tidak memperlakukan aroma sebagai sesuatu yang statis. Apalagi seiring berjalannya jam, seiring berinteraksinya molekul-molekul wewangian dengan pH dan suhu tubuh pemakai, aroma akan berkembang, berlapis, dan berevolusi, sekaligus menyeret serta membangun kembali potongan-potongan memori dan emosi yang pernah melekat pada aroma tersebut di masa lalu.
Penggunaan fragrance oils berkualitas tinggi yang menjamin stabilitas aroma, alkohol berbasis nabati yang lebih ramah di kulit, kepatuhan pada standar keamanan IFRA internasional, serta klaim performa yang bertahan hingga 12 jam, menjadikannya bukan sekadar proyek nostalgia, melainkan sebuah tawaran yang secara sadar berusaha menjembatani kekayaan alam Indonesia dengan kebutuhan gaya hidup kontemporer yang mengutamakan kualitas dan kedalaman personal.
