ASIAWORLDVIEW – Kelompok Houthi yang didukung Iran telah memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Mereka juga memperingatkan akan menyerang kapal-kapal yang mengangkut minyak mentah Arab Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb. Hal ini semakin memperkuat kekhawatiran terkait pasokan minyak, yang mendorong harga minyak mentah Brent melampaui USD95, mencapai level tertinggi dalam lima pekan.
Pengumuman blokade laut tersebut telah memicu titik panas baru di pasar energi, selain Selat Hormuz. Kondisi ini membuat ketegangan terus meningkat, mengutip Reuters, Rabu (22/7/2026).
Selain itu, dampak terhadap pengiriman minyak mulai terlihat. Tiga kapal tanker yang menuju Tiongkok dan India dengan muatan minyak mentah Arab Saudi. Alih-alih melanjutkan perjalanan di sepanjang pantai Yaman, berbalik arah di Laut Merah pada hari Selasa.
Sementara itu, perusahaan penyulingan minyak di Asia berupaya memuat kargo dari terminal Yanbu di Arab Saudi melalui Terusan Suez dan mengelilingi benua Afrika. Misi angkatan laut Uni Eropa, Aspides, juga telah mengeluarkan peringatan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan Israel, Amerika Serikat, atau Arab Saudi menghadapi risiko serangan Houthi yang semakin tinggi, dan telah menyarankan operator kapal untuk tidak melintasi Laut Merah dan Teluk Aden.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Ketegangan meningkat antara AS dan Iran. Ini merupakan malam ke-11 berturut-turut di mana militer AS melancarkan serangan terhadap Iran, demikian dikonfirmasi oleh pihak AS. Serangan tersebut terjadi tak lama setelah tentara Kuwait melaporkan telah mencegat drone Iran dengan sistem pertahanan udaranya.
Perkembangan tersebut telah menyebabkan lonjakan besar harga minyak. Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik $3,30, atau 3,63%, menjadi USD94,31 per barel setelah mencapai level tertinggi intraday di USD95,47. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD2,80, atau 3,32%, menjadi USD87,14 per barel. Kedua indeks tersebut mencapai level tertinggi dalam lima minggu, seperti yang terjadi pada 11 Juni.
Situasi pasokan yang terbatas saat ini juga terlihat di pasar fisik. Selisih harga (timespread) tiga bulan Brent mencapai level tertinggi sejak 22 Mei di USD10,89 per barel. Oleh karena itu, harga kontrak berjangka minyak mentah saat ini diperdagangkan lebih tinggi daripada harga kontrak dengan tanggal penyerahan yang lebih jauh.
Para ahli telah mengungkapkan kekhawatiran mereka atas lonjakan harga minyak yang belum pernah terjadi sebelumnya belakangan ini. “Pasar energi kini menghadapi kekhawatiran ganda terkait selat, dengan Selat Bab el-Mandeb yang tampaknya akan menyusul Selat Hormuz sebagai titik rawan, sementara para pedagang terus memantau angka pengiriman di Laut Merah,” kata Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade, seperti dilansir Reuters.
Selain itu, Frank Walbaum, seorang analis pasar di Naga.com, berpendapat: “Ancaman (Houthi) telah menyebabkan kapal tanker mengalihkan rute, yang dapat semakin menekan pasar fisik dan ekspor Arab Saudi, sehingga turut mendorong kenaikan harga.”

