ASIAWORLDVIEW – Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi ancaman nomor satu bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Data World Heart Federation menunjukkan bahwa pada tahun 2021, sekitar 765.660 kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit kardiovaskular. Angka kematian akibat penyakit ini di Indonesia mencapai sekitar 410 per 100.000 penduduk, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang sekitar 235 per 100.000 penduduk. Bahkan, proporsi seluruh kematian di Indonesia yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular mencapai 41,1%, sementara secara global angkanya 31,6%.
Di tengah kegentingan ini, hadirlah ASMIHA 2026 atau Annual Scientific Meeting of the Indonesian Heart Association ke-35. Ini merupakan momentum penting dalam upaya nasional menekan angka kematian akibat penyakit jantung. Berlangsung di Jakarta 16 dan 17 Juli 2026, menjadi sebuah momentum penting yang menegaskan posisi Indonesia sebagai episentrum kemajuan kardiologi di kawasan Asia Tenggara.
dr. Amir Aziz Alkatiri, MD, FIHA, Ketua ASMIHA, menyebutkan dalam keterangannya, Kamis (16/7/2026), gelaran ini mengusung semangat transformasi menyeluruh dalam tata laksana penyakit jantung, juga mengarahkan kebijakan ilmiah yang mengedepankan riset translasional. Tak lupa, dengan pendekatan pengobatan berbasis bukti.
“Industri medis nasional untuk tidak sekadar mengejar ketertinggalan teknologi, melainkan menciptakan terobosan inovatif yang sesuai dengan spektrum genetik dan gaya hidup masyarakat Indonesia,” ia mengatakan.
Baca Juga: Sunscreen, Tips Perlindungan Kulit Anak Saat Lilburan
Ajang ini menjelma menjadi panggung kolaboratif yang mempertemukan para ahli jantung terkemuka, peneliti klinis, hingga praktisi kesehatan dari berbagai pelosok negeri, Mereka bersama-sama membedah kompleksitas tantangan penyakit kardiovaskular yang masih menyandang predikat sebagai pembunuh nomor satu di tanah air.
“Pertemuan ilmiah ini diharapkan mampu melahirkan rekomendasi strategis yang aplikatif, sehingga mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat Indonesia akan akses layanan jantung yang paripurna, sekaligus menurunkan angka morbiditas dan mortalitas kardiovaskular di masa mendatang,” jelasnya.
Sementara, PERKI dan ASMIHA berkomitmen untuk terus mendukung pemerintah dalam menangani masalah kesehatan jantung, terutama melalui edukasi kesehatan dan peningkatan kualitas tenaga kesehatan di Indonesia. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, rumah sakit nasional, dan mitra internasional menjadi kunci keberhasilan upaya ini.
