ASIAWORLDVIEW – Rambut rontok sering kali menjadi sumber kekhawatiran karena dapat berujung pada penipisan rambut hingga kebotakan, baik sementara maupun permanen. Normalnya, seseorang kehilangan sekitar 50–100 helai rambut per hari, namun jika jumlahnya melebihi batas tersebut, hal ini bisa menandakan adanya gangguan pada siklus pertumbuhan rambut.
Faktor penyebabnya beragam, mulai dari genetik, perubahan hormon seperti pasca melahirkan atau kondisi PCOS, efek samping obat-obatan, stres berkepanjangan, pola makan yang kurang bergizi, hingga penyakit autoimun seperti alopecia areata. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain munculnya pitak mendadak, penipisan rambut merata, rasa gatal atau nyeri di kulit kepala, bahkan kerontokan di seluruh tubuh.
Hair Loss Awareness Month tahun ini menjadi panggung bagi terobosan baru yang menggabungkan kecerdasan buatan (AI) dengan keahlian dermatologi untuk mengubah cara pandang kita terhadap perawatan rambut. Dove Hairfall Control, bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) Cabang Jakarta, secara resmi meluncurkan platform “Dove Scalp + Hair AI Analysis” —sebuah alat skrining berbasis AI yang dirancang untuk memberikan pendekatan personal dalam mendeteksi dan mengatasi kerontokan rambut sejak dini.
Padahal, menurut dr. Sofiah Lontoh, Sp.DVE, MSc.CSO, FINSDV, FAADV, berbagai penelitian menunjukkan bahwa 80 persen masalah rambut rontok berakar pada kondisi kulit kepala.
“Kulit kepala adalah satu-satunya bagian ‘hidup’ dari rambut. Ketika kulit kepala terganggu dan tidak ternutrisi, kesehatan rambut akan memburuk dan memicu kerontokan yang lebih parah,” jelasnya dalam sesi ilmiah yang digelar bersama Dove.
Baca Juga: Pakar: Ketombe Bukan Sekadar Jamur, Tapi Alarm Scalp Barrier
Inovasi ini lahir dari kesadaran bahwa selama ini masyarakat masih terjebak dalam mitos dan praktik perawatan yang keliru. Banyak yang menganggap rambut rontok semata-mata disebabkan oleh batang rambut yang rapuh, sehingga fokus perawatan hanya tertuju pada teknik keramas, cara menyisir, atau penggunaan produk tanpa dasar ilmiah yang kuat.
Persoalannya, setiap orang memiliki karakteristik kulit kepala yang berbeda—mulai dari tingkat kelembapan, sensitivitas, hingga aktivitas kelenjar minyak. Karena itu, penanganan rambut rontok tidak bisa disamaratakan. Dibutuhkan skrining dini untuk memahami akar permasalahan, sehingga perawatan yang dipilih benar-benar sesuai dengan kebutuhan individu. Di sinilah peran Dove Scalp + Hair AI Analysis menjadi sangat krusial.
Platform ini dikembangkan dengan validasi para ahli dermatologi dan dirancang untuk memudahkan masyarakat melakukan penilaian awal terhadap kondisi kulit kepala mereka secara mandiri, namun tetap terarah dan berbasis data ilmiah. Ini bukan sekadar kuis atau tes visual, melainkan sebuah model penilaian yang terstruktur untuk mendeteksi tanda-tanda awal kerontokan yang mungkin luput dari perhatian.
Selain berdampak pada kesehatan fisik, rambut rontok juga membawa konsekuensi psikologis dan sosial. Rambut sering dianggap sebagai simbol identitas dan estetika, sehingga kerontokan yang terlihat jelas dapat menurunkan kepercayaan diri, memicu rasa malu, hingga berujung pada kecemasan atau depresi.
Untuk penanganan, tersedia berbagai pilihan mulai dari perawatan medis seperti minoxidil, finasteride, atau transplantasi rambut, hingga perawatan alami dengan bahan seperti lidah buaya, minyak zaitun, santan, dan makanan kaya protein serta zat besi. Pencegahan juga penting dilakukan, misalnya dengan menghindari pewarnaan rambut berlebihan, menggunakan sampo sesuai jenis rambut, melindungi rambut dari paparan sinar matahari, serta menjaga pola makan bergizi.
