ASIAWORLDVIEW – Hotel Indonesia Kempinski Jakarta menggelar sebuah perhelatan sore yang khidmat untuk memperingati hari jadinya yang ke-64. Lebih dari sekadar pesta ulang tahun, acara ini merupakan sebuah penghormatan mendalam kepada Sang Arsitek, Presiden Soekarno.
Mengusung tema Ādi-Kartā, yang dalam bahasa Sanskerta berarti ‘Yang Pertama’ atau ‘Arsitek Utama’, perayaan ini secara eksplisit mengakui bahwa Soekarno bukan sekadar pendiri bangsa, melainkan seorang visionaris yang secara langsung membentuk arahan artistik, visi arsitektural, dan identitas budaya Hotel Indonesia sejak pintunya pertama kali dibuka untuk dunia pada tahun 1962.
“Melestarikan nostalgia sambil menciptakan pengalaman lintas generasi terletak di jantung apa yang membuat hotel bersejarah ini begitu istimewa,” kata Petra Baumann, General Manager Hotel Indonesia Kempinski Jakarta.
Baca Juga: Sejarah Kelam Panjat Pinang yang Terlupakan, Jejak Luka di Balik Tawa
Baginya, hotel ini bukanlah sekadar tempat menginap mewah, melainkan ruang tamu bangsa—sebuah panggung untuk memperkenalkan keindahan, kemajuan, dan modernitas Indonesia kepada mata dunia. Maka, perayaan ini pun menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat itu, mengingatkan bahwa di balik setiap batu bata dan setiap sudut lobi terdapat jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu.
Salah satu puncak dari perayaan ini adalah peluncuran pameran seni bertajuk “The Founders: A Legacy Beyond Time” —sebuah kolaborasi dengan Neo Gallery yang dikurasi oleh Hendra Himawan. Pameran ini bukan sekadar menggantungkan karya di dinding; ia adalah sebuah perjalanan visual yang mengajak pengunjung merenungkan bagaimana para maestro seni rupa Indonesia di era Soekarno—seperti S. Sudjojono, Affandi, Basoeki Abdullah, Hendra Gunawan, Lee Man Fong, Dullah, Wakidi, hingga R.M. Pirngadie—telah meletakkan fondasi bagi cara bangsa ini melihat dirinya sendiri.
Melalui goresan kuas dan pilihan warna, mereka tidak hanya menciptakan karya seni, tetapi juga menulis narasi visual tentang identitas nasional yang baru lahir. Di sisi lain, ruang Nirwana Lounge menjadi jembatan menuju masa depan dengan memajang karya-karya dinamis dari seniman kontemporer seperti M. Ghoni dan Haidar Ammar, menunjukkan bahwa warisan seni rupa Indonesia adalah sebuah sungai yang terus mengalir, tidak pernah berhenti di satu titik.
Sebuah momen langka juga terjadi ketika kompilasi langka karya Lee Man Fong tahun 1964 yang mendokumentasikan koleksi seni pribadi Soekarno dipajang di lobi dan Executive Lounge, membawa pengunjung masuk ke dalam ruang pribadi sang presiden yang mencintai keindahan.
Keistimewaan lain dari perayaan ini adalah upaya sadar untuk menciptakan pengalaman lintas generasi, sebuah filosofi yang dipegang teguh untuk menjaga sejarah tetap relevan. Hotel Indonesia Kempinski bekerja sama dengan Produksi Film Negara (PFN) dan Museum Gubug Wayang Mojokerto untuk menghidupkan kembali ikon budaya tahun 1980-an, Si Unyil.
Bukan sekadar pajangan boneka, tetapi sebuah gerakan interaktif: kampanye media sosial, sesi temu mascot saat brunch akhir pekan di Signatures Restaurant, pastry edisi terbatas di Kempi Deli, hingga paspor liburan untuk anak-anak yang mengajak mereka berpetualang mencari 64 item melalui sejarah, kuliner, dan warisan budaya sepanjang Agustus. Ini adalah cara cerdas untuk mengenalkan masa lalu kepada generasi muda bukan melalui buku teks yang kering, tetapi melalui permainan, rasa, dan interaksi langsung.
